Jumat, 25 September 2009

Eps.5# Danjuga & Makaia dalam: "Pertanyaan Colongan"

Buka puasa hampir tiba, Makaia baru saja kelar latihan bersama bandnya, ia lalu langsung meluncur ke rumah Danjuga, sampai di sana ternyata kawannya itu tak ada di rumah.

"Kang Danjuga lagi nganterin pacarnya pulang..", lapor Mas Kalauya, pembantu rumah Danjuga. "Mas Makaia tunggu aja dulu bentar..".

Makaia menyesal tak menelepon Danjuga lebih dulu, ia kini terpaksa menunggu.

"Kalo cabut sekarang.. macetnya pasti gila-gilaan! menghambat proses evolusi ay banget!", ujarnya dalam hati.

Makaia lalu menyalakan komputer Danjuga, ia membuka situs ini-itu sebelum akhirnya muncul pertanyaan dalam kepalanya, pertanyaan yang tak bisa ia jawab sejak dulu. Ia mengetik pertanyaan itu di sebuah forum, ia berharap bisa mendapatkan beberapa petunjuk segera.

"Kenapa kita diciptakan? Apa maksud dari kehadiran kita di bumi?".

Tak membutuhkan waktu terlalu lama bagi Makaia untuk mendapatkan respon orang-orang. Makaia tersenyum, tak banyak memang, itu karena mungkin banyak orang yang sama bingungnya. Terutama bagi anak-anak Adam yang hidup di zaman modern seperti dirinya, yang semestanya memang telah terbelah-belah sejak awal dilahirkan.

Sewaktu lahir ia dibisikkan azan, lalu diajari agama sedari dini, bagaimana dunia ini penuh keajaiban yang fantastis, kisah nabi-nabi, wali-wali, orang-orang tercerahkan yang mampu menunjukkan kekuasaan Tuhan secara spektakuler, dan fenomena-fenomena ghaib yang bukan hanya harus dipercaya, tapi juga diimani sepenuh hati.

“Ke mana yang macam itu hari ini?”, Makaia seringkali menanyakan hal itu pada dirinya sendiri. “Apa zaman kemukjizatan sudah lewat? Modernisasi kah yang membunuhnya?”.

Zaman memang selalu berubah, tapi bukankah dunia yang didiami Makaia, Nabi Musa & sunan-sunan masih tetap sama? Bumi yang ini-ini juga! Di masa sulitnya, Makaia sering berujar pada dirinya sendiri.

Makaia & banyak orang mungkin tak sadar tengah dilanda kebingungan, kekecewaannya mengendap di dasar hati terhadap dunia yang jauh sekali seperti cerita-cerita orang tua & guru-gurunya di sekolah Islam. Ia & saudara-saudarinya harus mencari tahu sendiri tentang dunia, belajar sendiri. Kadang.. ia sampai di tempat yang salah, ia merasa bersyukur bahwa ia masih bernafas panjang hingga hari ini, banyak dari kawan-kawan masa kecilnya yang terperosok jatuh ke dalam kegelapan, beberapa dari mereka bahkan ada yang tak bisa hidup sampai hari ini.

Di rumah peraturan begitu ketat, mempertanyakan perintah orang tua seringkali dianggap sebagai indikasi ‘durhaka’. Makaia kesal, apa orang-orang tua itu tak tahu ada apa di luar sana? Apa-apa saja yang anak mereka bisa dapat dengan mudah? Mereka pikir masa ini lebih enak dibandingkan masa mereka tumbuh dulu. Makaia harus tak setuju, justru di masa inilah, di persimpangan abad 20 & 21 inilah, bahaya-bahaya yang laten memakai topeng begitu cantik, janji-janjinya sulit untuk disangkal, apalagi bagi mereka remaja-remaja dengan jiwa berapi-api.

Saat lepas, anak-anak ini seperti peluru liar, habis-habisan, mereguk yang tak bisa mereka peroleh di rumah.

Jangan minum, jangan hirup, jangan telan, jangan kotori dirimu, jangan ikut-ikutan jadi jagoan, jangan pakai, jangan ini, jangan itu.. Masalahnya tidak sesederhana itu!

Tempat yang didiami kita sekarang seperti sebuah film gado-gado, di mana para pemain manusia disandingkan dengan karakter animasi 2D & 3D.. seperti sebuah lukisan pop art dengan berbagai aliran gaya di dalamnya.. Dunia modern yang masih diliputi kepercayaan mistis, dua kutub tradisionalisme dan modern barat menarik kita.. globalisasi yang tak siap kita jelang & membuat semuanya begitu kaget.

Apa yang kita dengar di rumah, apa yang kita dengar di sekolah, apa yang agama bilang, apa yang ingin dilihat tetangga, apa yang ingin dilihat teman-teman kita, bagaimana para pemimpin mengarahkan kita, apa yang media bilang? Yang terakhir itu membuat kita harus mendengarkan pendapat ‘dunia’ juga..

Kita menjalani adegan-adegan dalam hidup sambil setengah bingung, lalu tak lagi yakin.. apa maksud dari keberadaan kita?

Makaia melihat respon dari Servo.. dari sisi religius dia bilang, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah/pemimpin di muka bumi,baik itu pemimpin untuk dirinya sendiri,maupun orang lain. Ada pula sebuah ayat yang menyatakan bahwa manusia diciptakan untuk menyembah penciptanya, ada pula ayat yang menyatakan bahwa manusia merupakan sebagian tanda-tanda kebesaran Yang Maha Pencipta.

Dari sisi subjektif Servo sebagai penghuni bumi, manusia diciptakan untuk 3B:
-Ber-Ibadah...
-Ber-Senggama
-Ber-Karya

Ibadah merupakan perwujudan hubungan komunikasi manusia dengan Penciptanya. Senggama merupakan perwujudan hubungan 'ideal' antar sesama umat manusia. Karya merupakan sifat hakiki sang Pencipta yang diturunkan kepada manusia untuk mengisi & menjadi misi hidupnya di bumi,sebelum kembali berpulang pada-Nya.

"Wala Tughoyyir, Hatta Yughoyyir... 'Tak akan ada perubahan, sebelum dilakukan perubahan’.”, kata Servo. “Sepenggal lirik diatas mungkin bisa membantun Makaia dalam menemukan jawaban kenapa manusia diciptakan: 'Untuk membuat Perubahan'. Semoga Makaia mendapat pencerahan... x).”.

Iqbal menyatakan, ia pun masih sebingung Makaia, sementara Haryo, sempat membuat Makaia sedikit bergidik dengan jawabannya.

"Kenapa kita diciptakan? Apa maksud dari kehadiran kita di bumi? Untuk melihat bahwa kita jualah yang akan menghancurkan dunianya sendiri.”, kata Haryo.

Ia bertanya balik pada Makaia, tentang ke mana sebenarnya kita menghamba.

“Kepada The Force kah? kepada sesama mahkluk kah? atau kepada sesuatu yang lebih abstrak, seperti pekerjaan!”.

Disusul pula oleh Dini, yang menganggap tiap manusia memiliki misi masing-masing.

“Masa' manusia dilahirkan hanya untuk sebuah fase yg membosankan seperti:
Lahir-TK-SD-SMP-SMA-KUliah
-Kerja-Nikah-Punya anak-Ngurus anak-Mati...... apakah hanya itu maksud manusia dilahirkan?”, tanyanya.

Terakhir Rizki ikut membuat Makaia bingung dengan berkata, “Untuk menjadi budak Tuhan..”.

Yang terakhir membuat Makaia agak gemas. Jika maksud dari penciptaan kita dilandasi dasar yang negatif macam begitu, apa kita punya harapan?

“Minta dipukul nih orang!”, dumal Makaia.

Ia membaca lagi respon Haryo & Dini, membuatnya mengerutkan kening sambil gigit jari. Telah lama ia gundah soal masa depan, mulai menggeser sedikit-demi-sedikit arah meriam cita-citanya, dari anak band yang bebas ke sebuah sosok suami & ayah dengan pekerjaan yang lebih ‘baik’. Makaia melihat satu-per-satu kawannya menikah & punya anak, ibunya di rumah pun sudah mulai menanyakan soal itu meski tidak secara intens.

Dulu ia berpikir untuk tak akan pernah menikah & punya anak.. kini umurnya terus bertambah, justru masa depan makin membuatnya takut, apa ia akan kesepian di hari tua jika tak memiliki istri & anak-cucu? Sementara seorang kawannya yang juga musisi mengatakan bahwa ‘berkeluarga’ artinya membuang ‘impian besar’. Karakter Siau Hi Ji dalam komik Impeccable Twins mengatakan, “Perkawinan adalah penjara bagi seorang lelaki.”.

Bagi banyak orang jadi kepala rumah tangga sekaligus jadi musisi adalah hal yang hampir mustahil, apalagi zaman sekarang, kecuali bagi mereka yang benar-benar beruntung & mereka yang cukup hebat, those chosen ones.. Makaia bertanya pada diri sendiri, “Am I good enough at this? Or is it my future lay on something else? While music is the only shit where my heart & soul wants to be with..”.

Makaia jelas tak ingin menghamba pada sesama manusia, apalagi pada pekerjaan, karena jika itu yang terjadi, “Sia-sia aja gua dengerin Lennon & Morrissey!”, nilainya. “Sia-sia aja gua jadi seorang Muslim!”.

“Tapi bukan berarti berkeluarga bukan cita-cita besar kan?”.

Makaia terkejut mendengar pertanyaan tersebut, dekat sekali dengan telinganya.

“Wuanjrot youuu!!”, seru Makaia pada Danjuga yang ternyata sudah berada di belakangnya entah sejak kapan. “Ngagetin aja you!”.

Danjuga terenyum. “Pertanyaan di tempurung kepalalu bener-bener nggak ketahan ya Mak?”.
“Yangpula undah you anterin pulang?”, tanya Makaia sambil setengah tersipu.
“Sampai dengan selamat di rumahnya..”, jawab Danjuga.
“Terus kapan you lamar dia?”.

Pertanyaan itu membuat Danjuga salah tingkah tanpa menjawab sepatah kata pun.

“You bisa jawab pertanyaan yang canggih-canggih dengan jawaban sotoy yang kedengeran canggih, tapi jawab pertanyaa simple kayak gitu ngak-ngek-ngok you!”.

Makaia tertawa lebar hampir menetes liurnya, puas sekali.

“Topik pernikahan bukan topik yang nggak menyenangkan, tapi butuh energi ekstra untuk diomongin.. dan gua baru bermacet ria..”.

“Ya.. ya.. bebisaan you aja itu mah..”, ledek Makaia. “Tapi you mau kan nikah sama Yangpula?”.

Danjuga duduk di sebelah Makaia, matanya memandangi screen CPU seraya menjawab, “Gua sayang bener sama yang satu ini, gua pikir, bahkan kalo harus ngebuang cita-cita gua pun, gua rela.. Pastilah gua pengen nikah sama Yangpula. Cuman sama dia gua pengen membuang hari-hari terakhir gua di bumi manusia..”.

“Ya-haaaay! Yang barusan katro banget! Taik! Geli gua!”.
Danjuga memicingkan mata ke arah Makaia. “Sialan, kayak nggak pernah kesamber ‘petir’ aja lu!”.

“Emang beda kalo ngucapin dari mulut sendiri, jelas lebih enak dibanding denger dari mulut orang lain!”. Makaia masih geli. “Tapi serius? You rela ngebuang impian you demi dia?”.

“Ya.. dia itu lah, impian gua Mak. Emang jijay sih kedengerannya, tapi, yang namanya cinta itu bisa dalam sekejap mata…”.

“Ah ngerti ay!”, potong Makaia. “Tema ini berat karena mengandung suatu unsur ‘kengerian’..”.
“Kengerian?”.
“You pasti ngeri membayangkan ‘kemungkinan’ kehilangan Yangpula kalo ternayata you nggak mampu membayar ‘harga’ untuk hidup sama dia.. jadi orang yang ‘tepat’ untuk Yangpula..”.

Danjuga tersenyum penuh siratan-siratan.

“Ay rasa si Dini itu bener..”, sambung Makaia. “Kita memang punya misi masing-masing..”.
“Dan tujuan kita dilahirkan ditentukan oleh sadar atau nggaknya tiap individu atas perannya masing-masing..”, lanjut Danjuga. “Ada yang bisa tercerahkan dengan kesadaran yang spesifik seperti itu, ada pula yang butuh penjelasan lebih epic lagi.. Dan gua liat si Servo ini yang ngasih jawaban ke elu dalam skala yang lebih ‘grand’.”.

“Tapi yang seru si Haryo juga bilang tuh Dan..”, ujar Makaia. “Kita dilahirkan untuk menyaksikan bumi ini runtuh oleh ulah kita sendiri!”.

“Yoi Mak, menurut gua, Tuhan pasti udah merancang akhir dunia sejak awal, manusia lah yang akan jadi eksekutornya. Itu udah kodrat kita. Kalo di film The Matrix, si agent Smith bilang.. ‘Manusia itu paling mirip sama virus; makin banyak-makin merusak, dan itu nggak terelakkan!’”.

Makaia mengerenyitkan dahi, ia nampak kurang setuju. “Seandainya kita hidup secara harmonis dengan alam gimana?”.

Danjuga menggeleng. “Itu kabar buruknya Mak, karena gua pikir itu mustahil! Alam ini selalu mampu mencari cara untuk menciptakan keseimbangan.. tapi manusia bergerak terlampau cepat.. apa alam bisa mengimbangi mereka? Gua sih ragu..”.

Danjuga menyalakan rokoknya. “Bayangin Mak.. Planet Bumi ini ukurannya begitu besar dibandingkan jika seluruh kepala manusia bumi disatukan.. kita dulu mikir.. sesuatu sebesar Bumi nggak mungkin lah bisa kita sakitin, tapi lihat hari ini.. seperti virus malaria yang ukurannya mikroskopik mampu membunuh satu manusia, kita pun ternyata mampu merusak sebuah planet besar, kita bahkan mungkin mampu membuatnya mati.. Cuma manusia Mak, bukan makhluk lain, cuma manusia yang diberi ‘kemampuan’ macam begitu sama Tuhan..”.

“Tapi Dan..”, Makaia dengan muka sedih. “Bukan cuma itu kan peran manusia?”.
Danjuga berdiri dari duduknya, ia meregangkan otot-ototnya yang kaku-pegal. “Gua setuju banget sama Servo soal beribadah, bersenggama & berkarya. Secara hakiki memenuhi dharma kita Hablumminallah-Hablumminannas, proses pemenuhan terhadap raga-jiwa-ruh..”.

“Apa bedanya juga antara jiwa sama ruh?”, tanya Makaia.
“Jiwa pasti lu udah tau kan.. sama aja seperti yang kita sebut ‘arwah’. Energi/chakra yang punya kesadaran & identitas tersendiri. Danjuga punya arwah sendiri, Makaia pun punya arwah sendiri, keduanya berbeda dengan ciri masing-masing. Energi yang dinamakan ‘jiwa’ itulah yang akan pergi meninggalkan raga mati kita kelak..”.

“Energi ya?”, tanya Makaia sambil gigit kuku di ibu jarinya.
“Kita suka liat tuh di program-program fenomena arwah buatan Amerika, para ‘ghostbuster’ itu dilengkapi alat pengukur elektromagnetik untuk menditeksi keberadaan hantu gentayangan.. Gua pikir yah.. masuk akal juga sih gadget canggih begitu digunakan untuk mencari suatu hal yang sifatnya ‘ghaib’ macam hantu, soalnya—balik lagi keThe Matrix, kaum robot kan menggunakan listrik yang ada/dihasilkan tubuh kita sebagai batere mereka.. “.

“Nah, kalo ruh?”, tanya Makaia lagi.

Danjuga menelan ludahnya berat, seperti ada biji rambutan tersangkut di lehernya.

“Ruh, atau kalo orang Hindu menyebutnya sebagai ‘Atman’.. adalah unsur prana illahiah yang sama di tiap makhluk.. seperti digambarkan dengan istilah ‘force’ di film Star Wars.

“Force itu kan semacam kekuatan yang dipunya para Jedi & Sith, buat bikin kontal musuhnya, atau semacam ajian berbentuk listrik dan shockwave?”, ujar Makaia sambil menirukan gerakan-gerakan ala ksatria Jedi.

“Tapi kan Mak..”, Danjuga menyambung. “May the force be with you!”.
“Ha?”.
“Maksudnya selain ada ungkapan ‘Your force are weak in you!’, ada juga ungkapan yang lebih populer: May The Force be with you!' Maksud dari ungkapan itu apa kalo lu pikir?”, tanya Danjuga menggoda. “The Force, seperti si Haryo bilang, adalah penamaan terhadap Tuhan di semesta Star Wars!”.

Makaia mengerenyitkan dahi. “Ay bener-bener nggak tau ke mana jalannya penjelasan you!”.
“’The Force’ adalah ‘Tuhan’..”, kata Danjuga gemas. “Tapi masing-masing Jedi atau Sith bisa menggunakan force pula.. berarti yang mereka gunakan semacam..”.

“Energi Tuhan?!”, sambar Makaia. “Gitu?”.
“Kurang lebih begitu!”, seru Danjuga seperti lega akhirnya kawannya itu mengerti. “Jadi kalo jiwa itu adalah ‘elu’, maka ruh atau atman adalah..”.

“Tuhan?!”.
“Yang bercokol dalam ‘elu’ dan makhluk lainnya tanpa terkecuali!”.
“Youuuu!! Syekh Siti Jenar you!”, Makaia menunjuk-nunjuk. “Ntar Wali Songo bangkit lagi dari kubur buat menggal kepala you! Make piso mentega! Terus mayat you berubah jadi anjing!”.

“Terus terang ya my dear friend..”, Danjuga menunjukkan lagi mata ‘samurainya’. “Gua emang ngerasa banyak banget kesamaan pikiran dengan orang itu.. bahkan sebelum gua baca apa pun tentang dia, ada beberapa hal di kepala gua tentang ketuhanan yang mirip banget sama pemikiran dia.. Jadi kalo lu lebih jauh lagi menghina dia..”.

Makaia gemetar melihat tatapan Danjuga.

“Please comrade.. don’t kill me..”.
“Lebay lu nyet..”, ujar Danjuga. “Mau gua lanjutin lagi nggak nih?”.
“I-iya deh.. apa kata pak samurai aja..”.
“Balik lagi ke ruh atau atman.. yang adalah Tuhan dalam diri kita..”.
“Ay tetep serem ngebayangin itu Dan.. terus terang deh.. ay nggak bisa boongin diri sendiri kalo yang satu ini.. I mean.. how could you? Bilang kalo Tuhan ada di dalam diri kita masing-masing? Jadi Tuhan itu banyak banget dong? Dan kita punya Tuhan pribadi dalam tiap individu?”.

“Ya.. lu sendiri percaya kalo Tuhan ada di mana-mana?”, danjuga melengos sebal. “Kenapa dia nggak bisa ada di dalem kita? Di dalem kau, aku, mak-babah lu, kucing lu, ikan mas gua..”.

Makaia tidak pernah segelisah ini dalam bincang-bincangnya bersama Danjuga, ia ngeri membayangkan betapa kawannya itu sudah sampai di bagian bahwa di dalam tiap manusia ada Tuhan. Perutnya merasa agak mual.

“Lu mau gua stop aja apa gimana?”, tanya Danjuga. “Gua nggak mau abis ini kita malah jadi musuhan..”.

Makaia diam, ia garuk-garuk kepala memandangi kawannya. Danjuga menghembuskan nafas.

“Selain Siti Jenar, ada dua orang lagi yang ajaran ‘sesatnya’..”.

Danjuga tersenyum kala menyebut kata ‘sesat’. “Mempengaruhi cara pandang gua terhadap ketuhanan.. yang satu adalah sufi Persia bernama Mansur Al-Hallaj, yang dihukum mati secara brutal karena bilang; ‘Akulah kebenaran, Anna Al-Haqq!’. Yang satu lagi.. Jalaludin Rumi.. hmm.. bentar yak Mak..”.

Danjuga kemudian mendekati rak bukunya di sebelah TV, ia nampak mencari-cari sesuatu.

“Nah!”, serunya kala mengangkat sebuah buku. “Buku syairnya Jalaludin Rumi!”.

Danjuga lalu membuka halaman-halaman buku syair tersebut.

“Ini-nih.. syair Rumi favorit gua Mak.. baca dah!”. Danjuga memperlihatkan sebuah halaman penuh tulisan berwarna biru tua pada Makaia.


AKU ADALAH KEHIDUPAN KEKASIHKU

Apa yang dapat aku lakukan, wahai umat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi, bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari sumber alam, bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang: surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa, taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat, jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku ...

Makaia tersenyum begitu habis membacanya, ia memandang ke arah Danjuga seolah ada mau.

“Apa lu?”, tanya Danjuga galak. “Pasti mau minjem? Kagak ada! Baca di sini aja! Yang kemaren aja belom lu balikkin!”.

“Dan..”, ucap Makaia pelan. “Dia menggambarkan Tuhan secara keren banget!”.
“Kalo gua bilang.. dia itu terbakar api cinta kepada Tuhan sampe gosong-song-song!”.

Keduanya tertawa membayangkan bagaimana seorang kakek tua berwajah timur-tengah terbakar sambil berlarian.

“Lanjut!”, seru Makaia semangat. Danjuga bingung melihat temannya itu tiba-tiba berubah segar kembali.

“Musisi emang musti dipancing sama yang berbau seni macam begini dulu ya?”, ledek Danjuga. “Ya.. Siti Jenar & Mansur Al-Hallaj, keduanya dianggap menyebarkan ajaran yang sesat, tapi dari pandangan lain, bukan itu alasan kenapa mereka dihukum, tapi karena keduanya telah menyebarkan ajaran yang ‘eksklusif’ tahap ekstasi selevel ‘Ma’rifat’.. itu terlalu canggih buat kebanyakan orang, yang malah bisa salah tangkep nantinya. Bagi yang lain, itu bisa dianggap indikasi ‘mempertuhankan diri’, bisa juga malah bikin orang terjerumus dalam kondisi ‘zhadab’; kegilaan berlebihan terhadap Allah! Karena itu ajaran ini nggak boleh sembarang disebar-luaskan, soalnya man! Baru dipikirin aja udah berat bukan-maen kan?”.

Makaia mengangguk setuju.

“Bukan berarti kita ini Tuhan karena nganggep kita mengandung ‘Dia’..", kata Danjuga. "Sebenernya malah, kalo gua sih ya mikirnya, justru kita & seluruh alam semesta itu berenang di dalam ‘Dia’ Yang Maha Luas, hingga tiada satupun yang tertinggal, semua terkena dan nggak akan mampu menghindar.. bahkan gua lucu membayangkan seorang atheis yang ogah percaya Tuhan tapi nggak berdaya apa-apa karena bagaimanapun Tuhan tetap ada bahkan di dalam dirinya..”.

“Iya-ya..”, Makaia menyambung. “Seperti satu orang yang bilang; ‘Dalem perut gua tuh nggak ada yang namanya usus!’. Tapi gimana dong? Ya emang ada gitu loch!”.

Danjuga menunjukkan ekspresi jijik mendengar ‘gitu loch’ dari mulut Makaia.

“Yah.. intinya mah.. terserah orang apa mau melihat antara dirinya & Tuhan itu terpisah, atau dirinya & Tuhan itu satu..”, jelas Danjuga.

Makaia memegangi dadanya, dirasakannya jantung berdegup lebih cepat.

“Indah sekali..”, pikirnya. “Di dalam tiap Transformer ada ‘Allspark’, dan di tiap ‘kita’ adalah ‘Dia’..”.

Danjuga dalam hatinya berharap-harap cemas, meski ia yakin, Makaia memiliki pikran & hati yang luas. Danjuga berharap Makaia kini tidak merasakan apa pun kecuali ‘lebih dekat lagi dengan Allahnya’, kekasih sejati semua-semua.

Molekul, atom.. jika kita bisa menemukan bahan ‘terdasar’ dari segala hal, titik terkecil yang mempolakan segala sesuatu.. Dialah yang akan kita temukan.. sebagaimana sinyal-sinyal digital adalah bahan baku apa pun yang bisa kau temukan lewat komputeramu..

Danjuga ingin sekali diam dan menunggu reaksi selanjutnya dari Makaia, tapi ia tak sabar.

“Gua malah mikir yang mungkin bisa bikin lu lebih ‘marah’ lagi..”.
“Ha? Apaan tuh?”, Makaia penasaran.
“Huff.. gua mikir.. kita semua ini adalah Dia yang menitis, ‘membelah diri’ lewat identitas jiwa & raga..”.

“Manifestasi?”.
“Semacam itulah.. dan oleh jiwa & raga, pula masing-masing dari kita terhalang terhadap kesadaran ‘sempurna’. Gua menyebutnya; ‘sudut pandang fana’. Namun dalam keadaan-keadaan tertentu, ‘tembok penghalang’ itu bisa menipis.. Dalam cerita Mansur Al-Hallaj, di hari-hari terakhir ia justru memohon agar hidupnya segera diakhiri agar ‘tembok’ itu hilang..”.

“Apa ini bikin you & ay jadi ma’rifat Dan?”, tanya Makaia dengan nada bimbang.
Danjuga tersenyum. “Gua pikir, kita jangan berusaha mengemban sesuatu yang nggak bisa kita topang.. apa sih yang kita tahu? Nggak ada apa-apanya Mak! Gimana kalo kita sombong & takabur? Kita malah jadi jauh dariNYa.. kita akan merasa paling benar, kalo dengan sesama manusia aja kita bikin tembok satu-sama-lain? Gimana mau deket sama Dia?”.

“Bangsat!”, seru Makaia tiba-tiba.
“Ada apaan Mak?”, tanya Danjuga cemas. “Sakit lu?”.
Mata Makaia menerawang. “Ay pernah bertanya-tanya dulu.. sebenernya, ‘takdir’ itu ditentukan oleh manusianya sendiri atau sudah digariskan oleh Tuhan?”.

“Astaga dragon..”, gumam Danjuga yang dengan cepat menyadari apa yang dipikirkan kawannya.

“Dari pembicaraan kita ini, semuanya bisa jelas, bahwa takdir memang ditentukan Tuhan..”
“Tapi Tuhan ada dalam diri kita..”, sambung Danjuga. “Maka..”.
“Maka ‘kita’ lah yang menentukan takdir!”, sambar Makaia pasti.

Keduanya saling menatap.

“Yahuuuu!!”, seru Danjuga & Makaia.

Mereka saling mengadu telapak tangan dengan wajah girang, seperti habis menang lotere.

“Merdeka!”, seru Makaia.
“Hidup demokrasi!”, sambut Danjuga, yang tak lama meluncur ke arah dapur untuk mengambil sesuatu di kulkas.

“Kalo bukan bulan puasa, gua akan menuntut bir atau a-mer, tapi karena bulan puasa, marilah kita kurangi luxury kita..”, ujar Danjuga sambil menyodorkan segelas coca-cola dengan es melimpah. Mereka berdua lalu toast, mengadu gelas satu-sama-lain sebelum menyeruputnya dengan suara keras.

“Ach! Kafeinnya!”, desis Danjuga.
“Ach! Gulanya!”, balas Makaia. “Menjalar ke mana-mana!”.

Mereka menyeruput sedikit demi sedikit minuman mereka, begitu tandas, Makaia kembali tak mau tenang.

“Edan!”, keluhnya. “Kita ngalor-ngidul nggak karuan lagi Dan! Kalo menurut you.. apa dari tujuan & maksud kita diciptakan?”.

Danjuga tersenyum simpul seraya sadar bahwa kawannya itu mudah sekali dililit rasa penasaran.

“Gua sih ragu..”, kata Danjuga. “Apa yang gua bilang ini penting.. karena gua rasa sih, lu udah tau sendiri, ditambah lagi masukan-masukan dari kawan-kawan lu di dunia maya..”.

“Karena ay pengen tau pendapat you!”, ujar Makaia bernada jengkel. “Udah buru da-ah!”.
“Hmm..”, danjuga memulai. “Tujuan kita ada di sini adalah sekedar merasakan cinta.. dan pada akhirnya cuma itulah yang akan menjadi penting..”.

Makaia menyimak.

“With grace we shall suffer, with grace we shall recover, there by the grace of God.. itu sepenggal syair Manic Street Preachers.. Buat gua, artinya bahwa kasih Tuhan bukan cuma bisa membuat kita senang, tapi juga bisa bikin kita merana, meski begitu, dengaan kasihNya pula kita akan dipulihkan.. Di Hindu kita kenal Siwa sang Dewa Pelebur, ia bekerja agar Brahma bisa mencipta kembali, bahwa Siwa menghancurkan & merusak, agar yang baik-baik bisa tumbuh. Itu mengajarkan bahwa Tuhan, bahkan kala Dia menimpakan petaka pun, Dia melakukannya dengan segenap cinta terhadap kita..”.

Makaia menyandarkan tubuhnya di kursi, perkataan Danjuga terdengar seperti musik di telinganya, mengalun perlahan.

“Ajaran Nasrani mengatakan, ‘kalo pipi kananmu ditampar, kasih pipi kirimu’.. Itu keren banget man! Dan pengorbanan Kristus dalam penyaliban untuk menebus dosa manusia itu adalah penggambaran yang luar-biasa, tentang betapa cintaNya tiada berujung.. Betapa kalau perlu, Yang Maha Kuasa pun rela untuk lahir sebagai manusia dan menjalani perih tiada tara demi kita..”.

Hati Makaia bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. Terakhir menonton film Passion of The Christ, ingatnya, ia menangis seperti bocah perempuan.

“Ada alasannya..”, Danjuga melanjutkan. “Kenapa di awal melakukan sesuatu kita diajari untuk mengucapkan Basmallah.. Karena itulah juga awal dari penciptaan segalanya, karena Tuhan memulainya dengan ‘Maha Kasih & Sayang’, karena itulah yang seharusnya paling kita cari & harapkan, karena Tuhan ingin kita pun melakukan segala hal diawali & didasari dengan kasih-sayang. Dia adalah Cinta, yang menyempil & meliputi apa pun..”.

Danjuga mengambil nafas, jantungnya pun berdebar, ia berusaha agar tidak menitikkan air mata.

“Allah mengambil kebanggaan, Dia mengambil orang yang kita kasihi karena Dia mencintai kita.. Dia menggelapkan ‘ruangan’ ini agar ketika Dia datang membawa ‘lampu’, maka kita akan berkata, ‘Terimakasih Ya Gusti, Kau selamatkan kami dari kegelapan, betapa indah cahaya yang Engkau bawa, sebab itu dia tak menciptakan segalanya sempurna & terang-benderang sejak awal, kalau ya? Apa ngaruhnya sebuah lampu di kamar yang udah terang duluan?”.

“And all of this are His Exhibition ..”, sambung Makaia. “Sebuah pesta pameran karya-karyaNya.. dan kita ada di sini karena memang Dia undang.. untuk berapresiasi, untuk experiencing love..”.

“Siapa yang akan membuat lagu tentang indahnya langit kalo bukan manusia?’, ujar Danjuga.
“Siapa yang bakal begitu penasarannya ada apa di seberang samudera kalo bukan kita?”, sahut Makaia.

“Siapa yang akan mengucap syukur kala makan malam siap?”
“Siapa yang akan menghargai benda mati bernama emas segitu tingginya?”.
“Siapa lagi yang akan selalu mengkritik karya-karyaNya?”.
“Siapa lagi yang bakal mencoba melukis seperti apa wajahNya di dinding goa?”.
“Siapa lagi kalo bukan kita? Yang karena kebingungannya, selalu minta petunjukNya?”.
“Siapa lagi kalo bukan kita? Yang ogah mengakui keberadaanNya,tapi ikhlas memberi kebaikan tanpa mengharapkan surga? Yang tanpa sadar malah mewakili kebaikanNya di dunia..”.

“Siapa lagi kalo bukan kita? Yang mengolah gandum jad bir?”.
“Cuma kita yang begitu repot isi kepalanya..”.

Danjuga & Makaia akhirnya sama-sama terdiam sambil terenyum, bersyukur karena telah diikutsertakan dalam film yang berjudul ‘Kehidupan’.

“I’m gonna play this role so well!”, seru Makaia dalam hati.

May The Force be with you all!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar