Jumat, 25 September 2009

Eps.7# Danjuga & Makaia dalam: "Hikayat Tanpa Akhir"

Ingatan Danjuga melayang meninggalkan adegan perbincangannya dengan Makaia, ke suatu waktu..

Danjuga duduk sendirian di kamarnya yang remang dikuasai keheningan, asap rokok keluar masuk paru-parunya; putih, pekat seperti hantu kecil bergulung di udara lembab.
Tempo hari ia saksikan kekasihnya, Yangpula, mendoakan para pembunuh dengan begitu lantang, memaksa hatinya yang lemah untuk maju perang. Bahkan Danjuga yang tak punya hubungan sama-sekali pun tak bisa memaafkan mereka, ia ingin neraka memanggang mereka selamanya.

Keadilan..
Keadilan seperti apa yang kita inginkan?
Apa yang kita anggap sebagai keadilan?
Sejauh mana kasih Tuhan?
Apa kita pernah minta dilahirkan?

Danjuga memejamkan mata, di kegelapan ia mencari Tuhannya, terantuk lagi & lagi.. begitu banyak yang menghalanginya.

“Pertemuan seperti apa yang kau inginkan Danjuga?”, tanyanya pada diri sendiri. “Buat apa kau mencariNya seperti ini?”.

Ia iri dengan mereka ‘para tercerahkan’.. ia ingin loncat keluar dari raganya, mengupas jiwanya..

“Dalam sudut pandangMu ya Allahku! Dalam sudut pandangMu ya Alllahku! Apa yang Engaku lihat?”.

Tapi mungkin itu di luar kemampuan Danjuga, ia harus tetap kecewa untuk tinggal dalam penjara sudut pandang fananya sebagai manusia.
Bagaimanapun Danjuga sulit untuk menyerah, senjata terakhirnya malam itu adalah imajinasi, seringkali, itulah yang berhasil menyelamatkannya dari banyak hal.. Maka ia pejamkan lagi kedua matanya..

…..
…..
……….

Muncullah… gambar-gambar…

Jiwa-jiwa manusia yang siap pulang, berjumlah jutaan.. tidak, trilyunan jiwa, timbul dari bawah, kita semua mengambang, perlahan tapi pasti, meluncur terus ke atas…

Kau bisa saksikan semesta di sekelilingmu runtuh terkelupas, seolah telur yang selama ini kita tempati akhirnya menetas, membuka jalan sepenuhnya untuk pulang.

Titik-titik bintang terdistorsi, awan angkasa dan bimasakti bak larut teraduk, galaksi-galaksi mati-hidup kembali-mati-hidup kembali..

Kau saksikan dengan begitu liar & jelas, awal & akhir, semua penciptaan & keruntuhan maha dahsyat, beralangsung amat cepat. Proses jutaan tahun berlangsung setarikan nafas.
Kau mengerti bagaimana semua berlangsung..

Berabad lamanya manusia mencoba membongkar langit, tiba-tiba kini kepalamu dipenuhi jawaban..
Seolah kau lah yang menciptakan semesta raya dengan tanganmu sendiri..
Semua ilmu pengetahuan hadir di pikiran seringan susunan abjad..

Seluruh sejarah, dari semua segi berputar cepat, terhapal di ingatan sejernih embun, seakan kau yang menulis tiap rinci kejadian..
Tiada yang terlewat, tiada yang tertinggal..
Kau bahkan bisa merangkap sudut pandang siapapun, tanpa batas..

Di mana orang-orang yang kau cintai?
Tapi kau tak perlu melihat ke sekeliling, kau tak perlu mencari lagi..
Mereka di sini..
Mereka adalah kau.. kau bukan hanya menemukan mereka, tapi telah menjadi mereka sepenuhnya, bahkan hal terkecil, rahasia yang sebelumnya tak pernah kau ketahui.. Telah kau alami..
Ratusan pengalaman dalam satu.. dan terus bertambah..

Ibumu, ayahmu, seluruh saudara-saudarimu, kawan-kawan baik & kekasih, semua yang paling berharga, yang mendahului, yang terlupakan, dan yang telah tergantikan..
Kita berkumpul lagi selamanya..
Berbincang tiada habisnya..

Di sampingmu..
Sebuah jiwa dengan wajah yang amat kau kenal..

Ingat?

Ingat betapa kau membenci orang itu dulu?
Kau yang tahu bagaimana ia telah menyakitimu, mengkhianati kepercayaanmu, membuatmu terhina & kehilangan diri begitu jauh..

Orang-orang itu berjalan bersamamu sekarang..
Ke tempat yang sama..
Kau yang sekarang bukan cuma mampu memaafkan.. Maaf terasa semudah kedipan mata..
Kau tersenyum karena wajah-wajah yang dulu kau benci kini nampak terlalu indah..
Bola-bola mata itu sejernih milik bayi yang baru dilahirkan, bersih, polos..

Kau tertawa riang!
Puas dan kenyang oleh kegembiraan.
Apa yang telah terenggut dulu.. sekarang telah dikembalikan sepenuhnya, dengan nilai beribu ganda!

Dan kau mengerti ketika wajah itu tersenyum..
Mengapa? Apa alasan perbuatannya dulu?
Kau mengerti.. dan semua terasa amat sederhana.. sepele..

Kau melakoni diri mereka, melalui kegelapan lewat sudut pandang yang sama..
Kau menjerit ngeri & iba..
Betapa nyatanya, jiwa-jiwa ringkih itu tak membutuhkan hukuman, mereka lebih membutuhkan belas kasihan & pengetahuan...

Di sini, sekarang, kala penjara paradigm fana luluh keping-demi-keping.. yang ada cuma hasrat paling hakiki..

“Kau takut?”, tanyamu.
Ia menggeleng.

Trilyunan jiwa bernyanyi bersama, suaranya membahana..
Musik paling indah yang pernah kau dengar, dimainkan dari pintu masuk menuju ‘segalanya’..
Syair-syair dengan bahasa yang tak kau kenal..
Pernahkah kau dengar sebelumnya?
Terdengar begitu akrab, dan bagaimana kau hapal tiap lajunya?

Kau menangis laksana air bah..
Kau tahu lagu ini!

Jatuh cinta jutaan kali.. Bercinta jutaan kali.. Patah hati jutaan kali.. Lahir kembali jutaan kali.. Mati jutaan kali.. Tercerahkan jutaan kali..

Kau mengerti! Aku mengerti sekarang!
Dan kau ingin lebih lagi!
Kau ingin mendengar, kau ingin melihat, kau ingin merasa & mengecapnya..
Kau ingin mengerti!

Lihat betapa muara cahaya itu kini hampir tak memiliki batas di hadapanmu!
Warna-warna apa itu? Tahukah kau apa namanya?
Semua jiwa meluncur menujunya..
Semua kepercayaan, semua generasi, semua kehidupan, yang pendosa, yang mencari, yang pergi & menetap, malaikat & iblis, semua warna, semua bentuk, semua sifat, semua bau, semua hasrat..

Kita semua menyanyikan lagu yang sama..
Tak terbatas nafas.
Waktu & ruang menyusut..

Kita pulang! Kita kembali!

“Aku siap!”, serumu.
Dan semua mendengar perkataanmu.

Melalui segalanya..
Merasakan segalanya..
Melampaui segalanya..
Yang telah, yang kini & yang belum..
Selalu ada yang selanjutnya, selalu akan ada yang baru..
Karena kau adalah yang lama, kau adalah yang baru.. Kau adalah hikayat tanpa akhir..

Jadi?
Kau ingin segalanya?


Kini.. kau telah menjadi segalanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar