Sabtu, 29 Agustus 2009

Eps.2# Danjuga & Makaia dalam: "Sampul Belakang DVD"


Sambil memakai sarung, Danjuga sedang menukarkan uang dengan sebungkus rokok, siang lumayan terik membuat semua orang jadi salah tingkah. Dari belakang seseorang mendekat, Makaia rupanya.


“Dan!”, ujar Makaia terus mencolek pundak Danjuga, yang agak kaget melihat wajah Makaia yang sudah muncul sejak siang begini.

“Ay masih kepikiran sama pembicaraan kita kemarin..”.
“Yang mana nih? Yang soal Paul McCartney mati sejak lama, atau..”.
“Itu juga sih.. tapi maksud ay yang tentang Adam-Hawa & buah teralarang itu-tuh!”.
“Ooh.. iya, kenapa? Lu punya argumen pembantah? Atau mau nuntut gua karena menistakan agama? He, gua nggak mau ngedoktrin siapa pun lho ya, gua cuma berbagi!”.

“Takutan amat you? Ay juga tau, omongan you kemaren setengahnya pepesan kosong!”.

Keduanya terbahak, lalu segera memutuskan untuk masuk ke dalam rumah Danjuga. Di dalam, Makaia mengajukan pertanyaan tentang seberapa besar presentase analogi/perumpamaan yang terkandung dalam Quran.

“Sebelum itu, kita harus percaya dulu sama kitab sucinya, baru bisa lanjut..”, ucap Danjuga serius. “Ini berlaku juga soalnya, buat kitab-kitab suci dari agama lain. Nah, sebagai muslim, lu percaya sama Quran nggak?”.

Makaia membuat ekspresi meledek. “ya-iyalah ay! Malah ay meragukan you!”.

“Oke, lu percaya Quran sebagai?”
“Buku kebenaran!”, seru Makaia lantang. “Pegangan hidup, peta menuju surga..”.
“Yang di dalamnya berisikan segala ilmu dan rahasia di alam semesta?”, sambar Danjuga.
“Nah, yang entuh juga!”.
“Gua bisa bilang Mak, bahwa presentase analogi yang ada dalam Quran itu banyak banget! Gua nggak tau sih, tapi mungkin lebih dari setengah!”.

Makaia terdiam, matanya menatap Danjuga lekat.

“Kenapa begitu ya? Padahal kan Tuhan nurunin biar dia jadi pegangan hidup, tapi kok isinya analogi melulu?”.

“Bagaimana kalau begini…”
“Ay suka deh kalo you udah ngeluarin kata-kata itu..”, ucap Makaia merayu.
“Super gay..”, desis Danjuga. “Balik! Bagaimana kalau, Quran memang rangkuman dari hidup? Semua ada di situ, tapi lu nggak bisa cuma bergantung dari dia doang!”.

“Kenapa?”, tanya Makaia.

“Rangkuman tetep rangkuman Mak! Ibarat lu beli DVD, kan ada sinopsis di cover belakangnya kan? Nah, lu bisa tau secara besar ceritanya tentang apa dari situ, tapi tetep Mak, lu musti nonton filmnya sampe abis biar tahu endingnya kayak apa, dengan kata lain, lu musti jalanin juga hidupnya, dan dari situlah jawabannya bakal lu temukan, sekeping-demi-keping..”.

Makaia melenguh, “Kurang keren you hari ini, itu mah ay juga tau, masa’ iya ada orang yang kerjanya baca Quran mulu tapi nggak ngejalanin hidup?”.

“Maksud gua ya.. kalo lu patokannya sinopsis doang, terus nggak mau liat yang lain, yah.. payah deh.. padahal jelas pasti lebih ribet bikin film dibanding nulis sinopsis di belakang cover. Satu lagi, sinopsis juga memberikan semacam teasing element, entah bentuknya kata-kata hiperbola, atau kalimat-kalimat pengecoh.. Biar ke-twist kitanya gitu.. Yang tadinya dipikir baik ternyata buruk, yang tadinya buruk taunya baik, yang keliatannya keren banget ternyata mati di tengah dan nggak ngaruh amat-amat..”.

“Stop sampai situ you!”, Makaia mengangkat telapak tangannya. “You mau bilang kalau sebagian isi Quran adalah kebohongan? Kegep you sekarang!”.

“Mak.. jadi lu anggap Quran itu nggak ada celanya?”, tanya Danjuga pelan, matanya dingin. “Quran adalah kebenaran mutlak begitu? Darinya segala jawaban bisa terjawab?”.

“Y-ya-iya lah! Apalagi? Ay muslim!”.
“Apalagi lu tanya? Bagaimana dengan Tuhan?”.
“He?”. Makaia bingung.

“Bukankah Dia sumur dari segala kebaikan dan kebenaran. Sadar nggak sih, kalau beberapa orang itu sudah menyekutukan Allah dengan kitab suci mereka? Agama mereka?”.

Mendelik mata Makaia.

“Mereka yang menolak untuk melihat ke arah lain, mereka yang menganggap bisa memahami Tuhan hanya lewat perangkat-perangkat cerita, firman, ritual, agama, dan lainnya, adalah mereka yang membatasi diri dalam menggunakan anugerahNya, mereka itu cetek..”.

“Serem you Dan, you bikin ay scared man!”. Makaia gemetar.

“Yang bikin serem itu Mak, betapa pesona kitab suci kadang malah menjauhkan manusia dari Tuhan..”.
“Gimana bisa?”, tanya Makaia.

“Orang Islam, kayak lu misalnya, percaya bahwa Quran tidak pernah terganggu keasliannya, ia tetap murni sejak awal kan? Terus kita bilang.. Quran adalah kebenaran. Astaghfirullah.. kita sudah jadi sombong karenanya, dari situ kita mencela agama lain, betapa mereka tidak murninya.. kita sudah sombong Mak!”.

“Tapi dan.. Quran adalah kata-kataNya! FirmanNya!”, sanggah Makaia.

“Yang disampaikan lewat bahasanya manusia Mak, ‘bahasa’ yang kapasitasnya cuma seukuran bak mandi nggak akan bisa menampung ‘maksud ‘yang luasnya seperti samudera!”.

Danjuga menyalakan rokonya yang tadi baru dia beli.

“Gua mau bilang.. bahwa apapun yang dijatuhkan ke dunia manusia, mau tidak mau akan terkena hukum dualisme, negatif-positif, begitu pula dengan Quran.. Orang-orang itu bilang Islam dan Quran adalah mukjizat dan hadiah tanpa cela, seolah Islam tak bisa dan tak pernah menyumbangkan keburukan pada dunia. Sekarang gua tanya, berapa banyak hal baik yang diakibatkan lahirnya Islamnya Muhammad?”.

Makaia garuk-garuk. “Banyaklah..”.
“Salah lu! Jawabannya; luar-biasa banyak! Seakarang lagi, berapa banyak keburukan, efek dari adanya Islam?”.

Makaia terdiam sejenak, lalu menjawab pelan, “Sama banyak.. tapi! Itu kan karena orangnya! Bukan agamanya!”.

“Iyalah Mak..”, kata Danjuga. “Kebaikannya juga emang siapa yang ngamalin? Kan orang-orangnya juga..”.

Makaia gugup, ia mulai mengigit kukunya.

“Gua mau bilang Mak..”, lanjut Danjuga. “Yang memiliki kemutlakkan terhadap kebenaran cuma Dia, nggak ada yang lainnya, bahkan jika itu adalah Quran..”.

“Dan.. jadi bimbang nih ay.. apa dong yang membuat Islam spesial dari agama lainnya?”.

Danjuga tersenyum, ia bangkit dari duduknya, pergi ke dapur untuk menyeduh dua cangkir kopi, kali ini, Makaia bisa menyeruput dari cangkirnya sendiri.

“Thanks man..”, ucap Makaia ketika kopinya datang.
“Hmm.. seseorang pernah bilang, tiada jalan selain Islam, Quran dan Hadist menuju surga, gua langsung nggak setuju, betapa nggak demokratisnya, padahal Allah sendiri Maha Demokratis!”, ujar Danjuga kesal. “Kalo nggak, dia pasti udah jadiin manusia seperti malaikat, nggak punya freewill sejak awal kan?”.

Danjuga menyeruput kopinya, Makaia mengikuti.

“Jadi kalo orang meluk selain Islam pun, bakal sama-sama kita juga dong nanti, di surga?”.
“Kalo iya kenapa? Bukannya menyenangkan ya? Sama-sama kita di surga, masa’ lu nggak seneng orang lain juga seneng? Together forever! Hahaha!”.

"Come together! Right now! Over me!", Makaia menyanyikan lagu the Beatles. "Eh! mampus gua! ntar mendiang Paul McCartney denger deh!".

Makaia & Danjuga masih berdiskusi, tentang Quran, wuih! Berat amat? Mereka lagi berbincang tentang kemungkinan adanya unsur analogi dan kemungkinan adanya unsur pengecohan dalam Quran.. Sensitif..

“Yah nggak Dan.. jadi berasa nggak sekeren itu aja deh ay!”.
“Kan tadi gua udah bilang, kadang-kadang bahkan agama jadi menjauhkan kita dari Tuhan, kita malah jadi menyombongkan diri, nah, itulah yang gua maksud dengan unsur pengecohan dalam kitab suci, bukannya kebohongan!”.

Danjuga berdehem, “Kita sok tau ya dari tadi?”.
“Kurang ilmu tapi belagak ngomongin topik yang berat-berat!”, sambung Makaia.
“Jadi.. mau distop aja apa gimana nih?”
“Ah! Udah! Lanjut aja! Persetan! Kita kan jagoan!”, Makaia tertawa. “Biar aja kita dibilang orang gila! Muhammad, Plato, Ibrahim, juga dulu dibilang edan dan meracuni pikiran, tapi lihat mereka sekarang!”.

“Yah.. nggak segitunya juga kali kita Mak!”.
“Nggak Dan.. kadang-kadang suka gedeg ay, sama serangan-serangan ke orang Ahmaddiyah!”.
“Kenapa?”.
“Orang-orang Islam itu seolah lupa sama asal mereka yang mungil, asal mereka yang tadinya di bawah banget, lihat perlakuan mereka terhadap orang Ahmaddiyah, persis perlakuan Quraisy kepada umat Islam awal di Mekkah!”.

“Anjrot! Bener juga lu!”, tanggap Danjuga. “Sama kayak orang Mesir ke Bani Israil jaman Musa, sama kayak bani Israil ke Yesus Ksritus juga..”.

“Nabi isa!”, koreksi Makaia.
“Apalah arti sebuah nama kawan..”.
“Hmm.. kalo diliat.. seringkali tokoh protagonis berubah jadi antagonis setelah mereka besar, setelah mereka jadi mayoritas.. Eh!”.

“Kenapa Mak?”.
“Jadi lupa tadi, terus apa dong spesialnya Islam?”.
“Kalo itu, tanyalah ke dalam diri lu sendiri, di situ kau akan menemukan jawaban.. kalo akhirnya lu nggak dapet apa menariknya.. ya pindah aja!”, canda Danjuga.

“Bisa dipenggal ay sama bokap-nyokap!”, seru Makaia.
“Wuih! Jadi itu alasan lu meluk Islam? Bokap-nyokaplu ternyata tuhannya?”.
“Sialan you! Tapi.. iya juga sih, ay Islam karena mereka Islam, kalo mereka Buddha, pasti ay juga ikut Buddha, tapi kok banyak banget yang pada belagu bilang Islam is the best padahal dari lahir udah Islam ya? Kayak nyari aja mereka!”. Makaia berpikir. “Nah! Pacar you, si Yangpula kan Katolik! Gimana tuh? Orang kayak you mah pasti entar ngikut agama cewek you ya? Hahaha!”.

“Deket juga jawabannya sama yang baru aja lu bilang.. Islam bagi gua memang warisan, dan meski bukan satu-satunya jalan bagi gua untuk menuju Tuhan, terus-terang gua suka agama gua, gua cinta, kalo gua punya mesin waktu, gua akan pergi ke zaman Muhammad dan mencium kakinya, tapi doi pasti nolak, karena itu dia anggap sebagai perilaku mempertuhankan, dan dia bakal bilang, ‘Ente mau jerumusin Ane ke neraka jahanam? Miskin inti Muslimah!’ Haha! Ya, bagi gua Islam adalah identitas diri gua, yang bakal gua bawa sampe mati!”.

Makaia berdecak.

“Kalo lu tanya siapa gua Mak, gua akan bilang; Saya Danjuga, seorang Muslim! seorang Indonesia! Seorang manusia! Dan aku akan mati dengan tangan tanpa ikatan!”.

“Jiyaellah! Yang terakhir liriknya Morissey!”, komentar Makaia. “Kita balik dong ke awal, tentang analogi dalam Quran!”.

“Ngelantur ya kita?”, canda Danjuga. “Hmm.. intinya, Quran itu menggunakan metode-metode advertising yang jenius!”.

“Nah lho?”, Makaia kaget. “Kok ngelantur lagi nih? ke advertising?”.
“Yoi Mak, dia turun awalnya dengan menggunakan bahasa setempat, dan isinya bisa klop banget! Masih relevan sampai sekarang, tapi pasti lebih relevan lagi dengan kondisi jaman di mana ia diturunkan! Terus..”.

Danjuga tiba-tiba batuk.

“Kebanyakan udut you!”, ledek Makaia. “Lanjut!”.
“Coba bayangkan kalo semua hal, rahasia dunia ditaruh di Quran plek-plekkan tanpa analogi dan penyingkatan gila-gilaan? Bakal setebal apa bukunya? Satu komplek perumahan tuh gedenya Quran!”.

Makaia geli membayangkan perkataan Danjuga.

“Dan betapa nggak enak dibacanya!”, sambung Danjuga. “Lu bayangin orang Arab jaman dulu disodorin tentang rumus fisika, kimia, matematika ple-plek, biologi, DNA ini-DNA itu, bahwa manusia berovolusi dari kera.. makin ditimpukin Nabi Muhammad dah! Apa itu? Nggak menarik! Bikin pusing! Mual-mual dah pada! Makanya pake banyak analogi yang enak dibaca, yang indah-indah..”.

“Shit! You’re right.. metode advertising jenius, penerapan teknik media literatur super!”. Makaia kagum. “Subhanallah..”.

“Tapi tetep..”, Danjuga menambahkan. “Quran tidak bisa dijadikan pegangan mutlak, kita kan dibekali dengan potensi imajinasi dan akal pikir yang besar toh? Kalo kita menyia-nyiakan itu, apa bukannya mubazir? Belajarlah dari mana saja, apa saja, kalo kata Mas Noey.. eh, itu kan namanya?”.

“Siapa?”, tanya Makaia.
“Vokalisnya Letto..”, jawab Danjuga.
“Oh anaknya Emha Ainun Najib? Emang dia bilang apa?”.

“Di majalah Rolling Stone dia pernah bilang.. ‘Kalo mau nyari sesuatu yang spiritual mah.. dari tai kambing pun, lu bisa dapet!’”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar