Sabtu, 29 Agustus 2009

Eps.1# Danjuga & Makaia dalam: "Adam, Hawa & Buah Terlarang"

Danjuga suatu ketika berkata pada Makaia, bahwa kini ia percaya betul dengan teori evolusi manusia, homo saphiens berasal dari bentuk yang lebih sederhana.

“Jadi menurut you kita bener turunan monyet?”, cibir Makaia.
“Kera?”, tanggap Danjuga. “Ya. Lu emang nggak?”.
“Ay milih lebih percaya sama Quran aja ah! Teori evolusi manusia bikin ay ngerasa nggak segitu kerennya lagi!”, ujar Makaia.

“Hei! Gua juga percaya sama Quran!”, seru Danjuga.
“Oheiiy! Pilih salah satu bru! Tabrakan tuh!”, balas Makaia. “Kecuali.. you anggap Adam-Hawa itu monyet!”.

“Nggak.. bukan begitu, itu terlalu kasar kawan..”, ujar Danjuga. Ia lalu menyalakan rokoknya dan menyeruput kopinya pelan. “Kalo lu terus nangkep apa yang ada di Quran secara mentah dan sempit, maka Quran akan terus kalah sama science yang punya modal pembuktian empiris! Iman memang bagus, tapi itu tidak cukup untuk membuat anak-anak kita kelak stay di agama kita ini.. dan seperti band tua yang nggak mau kehilangan penggemar dan terus pingin nambah penggemar baru, maka..”.

Air muka Makaia berubah kaget.

“Youuu!! Mau ngerubah-rubah kitab suci you?! Bid’ah you!”.
“Makaia.. kitab suci yang diturunkan Tuhan ke Muhammad itu udah paling bener menurut gua, tidak akan pernah perlu revisi atau koreksi.. yang harus diubah itu cara kita melihatnya, memahaminya..”.

Makaia mengerutkan kening, ia masih curiga pada Danjuga.

“Bayangkan kemajuan iptek di masa anak-cucu kita kelak.. jika ada bukti lebih banyak lagi bahwa manusia memang keturunan kera, lalu kau mau bagaimana? Kekeuh sambil teriak-teriak dengan Quran di tangan? Percuma..”.

Danjuga menyeruput kopinya lagi.

“Coba cari benang merah antara kisah Adam-Hawa dengan teori evolusi manusia empirik..”.

Makaia berpikir, agak lama, lalu menjawab. “Dari surga Adam-Hawa turun, mereka lalu bertemu dengan manusia-manusia kera, keturunan mereka berperang, manusia kera musnah.."

“Itu sudah bagian yang ke berapanya tauk!”, potong Danjuga. “Jadi lu masih percaya kalau manusia turun dari langit? Bahwa manusia berasal dari tempat asing? Bukan dari bumi ini? Nggak make sense!”.

“Namanya mukjizat Tuhan bru! Kun fayakun! Lagipula keren banget kan kalo bener?”. Seru Makaia.

“Buat gua yang namanya mukjizat itu adalah keajaiban-keajaiban yang make sense! Dan nggak ada keajaiban yang lebih indah daripada keajaiban yang make sense.”.

“Ha?”, Makaia bingung. “Ngomong apa you?”.
“Bagaimana jika sebenarnya seperti ini.. Adam dan Hawa bukanlah pencitraan dari individu-individu, melainkan personifikasi dari sebuah fase/masa/kondisi..”

“Maksudnya?”.
“Lu inget nggak kata-kata guru agama kita dulu? Bahwa yang namanya utusan Tuhan atau nabi itu bukan Cuma dari golongan manusia, tapi juga tanda-tanda alam..”.

“Lha terus?”
“Jadi suatu kondisi/fase yang bernama Adam-Hawa bisa dianggap nabi atau utusan Tuhan untuk memberi kita petunjuk betapa hebatnya Dia..”.

Makaia makin bingung, kini ia yang menyalakan rokok dan menyeruput kopinya Danjuga.

“Adam-Hawa ada di surga sebelum turun ke bumi kan?”, Tanya Danjuga.
“Semua juga tau, itu macam pertanyaan yang nggak perlu dijawab ya?”
“Sekarang gimana kalo surga yang disebut dalam Quran bukanlah surga secara fisik, namun penggambaran dari sudut pandang/persepsi?”.

Makaia mengangkat telapak tangannya, ia berkata.. “Manusia hidup dalam dunia asumsi..”.

“Itu kata-katanya Itachi Uciha pas mau berantem sama Sasuke kan?”, Tanya Danjuga sambil nyengir. “Gua tanya nih sama lu.. Sudut pandang seperti apa yang bisa dianggap sebagai sudut pandang surga? Sudut pandang tanpa beban, sudut pandang bebas hanya berdasarkan insting, tanpa tetek-bengek, tanpa masalah kompleks seperti duit, kekuasaan, blahblahblah...”.

“Idiih… itu nggak boleh tuh kalo you lagi wawancara penelitian.. pertanyaan yang diarahkan!”, protes Makaia. “Ya, gua tau maksud you apa, ay juga sering ngarep jadi burung, bisa terbang bebas ke manapun, atau jadi kelinci, ngewe di manapun, kapanpun, atau jadi laron, hidup singkat, mati setelah puas menikmati cahaya… MATI SETELAH PUAS MENIKMATI CAHAYA! Anjrot! Keren tuh buat lirik lagu!”.

“Betul kawanku Makaia, gua setuju, sudut pandang surgawi adalah sudut pandang hewan: bentuk yang lebih sederhana dari manusia..”.

“Hmm..”, Makaia menggaruk dagunya. “Adam-Hawa berada di sudut pandang surgawi sebelum turun ke bumi.. Dari hewan, lalu ke ‘bumi’ sudut pandang manusia..”.

“Dan tiba-tiba saja, semua jadi berbeda bagi Adam-Hawa, nggak lagi senyaman dulu, semua kok sekarang apa-apa ribet ya?”, balas Danjuga.

“Soalnya kepala mereka yang sekarang berubah, jadi makin rumit!”, sambung Makaia lagi.
“Terus Mak, apa yang membuat Adam-Hawa diturunkan ke bumi?”
“Tiada yang lain lagi selain buah terlarang itu! Buah Khuldi?”
“Dan apakah itu Buah Khuldi?”
“Jakun! Hahaha!”.
“Susah-susah nungguin Firman Tuhan, terus para nabi itu dapet riwayat soal kenapa cowok berjakun?”.

“Becanda ay Dan! Hmm.. Buah Khuldi itu penggambaran soal nafsu seks dan perut! Hahaha!”.
“Binatang lain juga punya, itu mah basic instinct atuh Mak! Kalo nggak ada, bumi tak akan berputar!”.

“Terus apa dong?”, tanya Makaia.
“Apa yang nggak dipunya hewan lain selain manusia?”.
“Akal pikiran? Itu Buah Khuldi?”.
“Kalo akal pikiran, manusia kera juga udah punya! Menurut gua buah Khuldi adalah.. imajinasi!”.
“Jadi sebenernya Buah Khuldi itu nggak ada?”, tanya Makaia. “Itu kenapa you sebut dia sebagai imajinasi?”

Danjuga & Makaia membicarakan soal Buah Khuldi. Saat Danjuga mengatakan bahwa menurutnya Buah Khuldi adalah imajinasi, Makaia protes, ia berpikir mungkin Danjuga temannya memang sudah skeptis terhadap Quran.

“Bukan gitu!”, sanggah Danjuga. “Maksud gua bukan Buah Khuldi adalah imajinasi, tapi dia adalah perumpaan dari kemampuan kita melihat apa yang tak terlihat, membaca apa yang tak terbaca, menyimbolkan sesuatu!”.

“Imajinasi adalah hal yang bagus Dan! Kenapa dia membuat Adam-Hawa dihukum turun ke bumi?”.

Danjuga menyeringai. “Mak, gua nggak melihat itu sebagai hukuman, karena memang sejak awal Tuhan bilang kan? 'Aku akan menjadikan manusia sebagai khalifahKu di bumi-mi-mi!'”.

“Kurang ajar you, pake echo segala..”.
“Yah maksud gua kurang lebih di Quran Allah berkata demikian lah! Berarti konspirasi setan membujuk Hawa pun sudah diatur! Bingung nggak lu? Nggak mungkin Tuhan kecolongan ada setan nyusup ke surga!”.

“Pas diturunin ke bumi palingan Adam mikir: Lha? Gini doang? Ini mah dari awal juga gua udah tau bakal diturunin jadi khalifah! Hahaha!”. Makaia terkakak keras, padahal barusan dia protes waktu Danjuga bikin echo suara Tuhan.

"Di Discovery Channel..", lanjut Danjuga. "Pernah ada program soal evolusi manusia, Walking With Cavemen, di narasi akhir dikatakan bahwa bahan terakhir penciptaan manusia, dalam hal ini Homo saphien, adalah imajinasi! Itulah mengapa kita bisa berkesenian, melihat awan kok mirip kelinci, merancang suatu penemuan, bahkan mencitrakan Tuhan dengan gambar, sebutan nama, dan lain-lain! Itulah hal yang bikin kita paling berbeda dari yang lain! Karena imajinasi nyatanya merangsang dan mempengaruhi jalannya hal-hal lain yang ada dalam diri kita, dari yang basic-basic, sampai akal-pikiran kita tadi!".

“Nah..”, lanjut Danjuga. “Kalo kita baca Kartun Riwayat peradaban jilid 2 dan buku Mapping Human, kita tau bahwa seluruh homo saphien itu berasal dari satu perempuan, kromosom bahan baku manusia perempuan yang ada duluan, baru abis itu kromosom cowok..”.

“Padahal yang diciptain duluan Adam ya?”
“Tapi..”, Danjuga mengangkat telunjuknya. “Yang makan Buah Khuldi siapa duluan coba?”.
“Shit!”.
“Yes dear friend! It was our mother Eve!”.

Makaia tergagap sebelum akhirnya ia bisa mengeluarkan kalimat, “Mereka berdua dipisahkan begitu sampai di Bumi.. mungkin bukan jauh dalam artian tempat, tapi dalam artian waktu!”.

Danjuga tersenyum mendengar kawannya itu paham apa yang ia pikirkan.

“Subhanallah..”, ucap Danjuga pelan.
“Si Boss memang keren.. super keren! Gua jadi pengen ngulik-ngulik Quran lagi nih!”.
“Ngobrol sama gua bisa bikin lu saleh Mak! Hahaha!”.

Makaia belum percaya dengan pikiran Danjuga, sementara Danjuga sendiri tidak punya maksud untuk mempengaruhi orang lain, ia cuma ingin berbagi. Ia sendiri sadar apa yang ia pikirkan belum tentu hal yang paling benar, ia tahu, bahwa ini adalah proses dalam pencariannya terhadap Sang Pencipta, tempat di mana suatu hari nanti ia akan pulang dan mendapat jawabannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar