Siang baru saja lewat, di meja komputer, Danjuga asyik browsing, sementara kawannya, Makaia, selonjoran di karpet, nonton TV sambil makan gorengan, beberapa kali ia mendumal sendiri, akhirnya Danjuga sadar.
“Napa lu Mak?”, tanya Danjuga.
“Taik banget dah TV nih, terutama ya, TPI sama Indosiar! What the fuck man!”.
“Tapi tetep lu pantengin..”.
“Kadang-kadang asik juga sih, ngatain program-program sampah TV, sambil berasa pinteran dikit gitu man, tapi buseeeet! Nggak tau malu bener orang-orang ini! ‘Televisi Pendidikan Indonesia’, apa isinya orang dungu semua? Gantilah jadi ‘Televisi Pandir Indonesia’!”, cerocos Makaia.
“Lagi ada apa emang?”, tanya Danjuga ingin tahu.
“Ben 7! What the fuck! Ini lagi Indosiar, sejak Manohara, Titi kamal nggak lagi jadi TKW Arab, jadinya Malaysia! Ampun!”. Makaia mengecilkan volume TV lalu duduk bersila mengarah ke Danjuga, dengan wajah serius ia berkata, “Kalo suatu hari ay jadi tiran di republik ini, gua penggal-penggalin pala orang-orang ini! Nggak ketinggalan Aldi Taher sama Saipul Jamil! Pake piso mentega, rasain, 3 hari baru kelar eksekusinya!”.
“Kok dua-duanya suaminya Dewi Persik?”, tanya Danjuga geli.
“Kebetulan aja sih, tapi emang tuh cewek magnet laki-laki dari Saturnus mungkin!”. Makaia tersenyum sinis. “Apa coba bagusnya dua orang itu? Wah-wah.. oya, sama Eko Patrio juga sekalian!”.
“Ah udah ah!”, potong Danjuga. “Daripada ngomentarin orang nggak ada juntrungan, mending lu baca nih, Serial Detektif Partikelir Haryo di Facebook! Keren dah!”.
“Itu mah, ay udah baca Dan!”, ujar Makaia. “Kalo gua sukanya sama karakter asisten detektifnya..”.
“Kenapa dia?”, tanya Danjuga. “Nggak ngaruh gitu, tukang ngekor.”.
“Tapi dia bikin seger ceritanya man, hampir seluruh karakter di DPH itu gloomy semua!”.
Danjuga lalu mendendangkan potongan syair lagu ‘Gloomy Sunday’.
“Hiii! Stop you! Serem ah!”, seru Makaia. “Nggak tau you? Banyak orang bunuh diri abis dengerin lagu itu? Penyanyi aslinya aja konon, bunuh diri juga!”.
“Akh! Sotoy lu Mak!”, cibir Danjuga.
“Eh, ngomong-ngomong.. pacar you.. Yangpula, hari ini ke mari nggak Dan? Kok jadi jarang dah dia? Ada masalah you sama doi?”.
“Dia kan lagi skripsi Mak, sibuk.. emang kenapa lu nanya dia?”.
Makaia menyeringai.
“Dia kan jago buat skrip film Dan, ay punya ide nih! Idenya sci-fi gitu deh! Macam Indiana Jones, Tomb Rider, lalala!”.
Danjuga melirik. “Gimana ceritanya? Pasti aneh..”.
“Gua terinspirasi sama obrolan kita tempo hari, jadi ceritanya, dulu, pas Adam-Hawa diturunin ke bumi, ternyata Hawa masih nyimpen satu biji buah khuldi, yang terus dia tanem dan tumbuh di suatu tempat di bumi.. nah! Dari situ ceritanya di mulai, pencarian pohon buah terlarang yang menegangkan, penuh intrik dan tipu daya, juga action ala Michael Bay, orang-orang pada ngejar pohon itu karena dianggap bisa bikin dunia bertekuk lutut!”.
Danjuga cuma diam sebentar, lalu berujar pelan, “Mahal tuh kayaknya…”.
Makaia memble.
“Nggak seru you..”.
“Mending lu bikin novel aja dulu..”, imbuh danjuga. “Macam Da Vinci Code gitu, yah.. berdasar kisah-kisah Quran. Buku satu soal pencarian buah Khuldi, terus kisah Musa..”.
“Tunggu deh!”, potong Makaia. “Gua mendadak jadi kepikir, obrolan kita sebelumnya Dan, soal perumpaan dalam kitab suci..”.
“Yang ngelantur parah itu?”.
“Yoi! Ay belom tanya contoh bentuk perumpaannya apa aja!”, Makaia gemas. “Ada Quran nggak you?”.
Danjuga garuk-garuk kepala. “Di mana ya? Musti nyari dulu..”.
Makaia geleng-geleng. “Ngomongin isi Quran kayak ahli tafsir, tapi subjeknya aja musti nyari dulu entah di mana.. ckckck..”.
Danjuga tersipu. “Ya kita kan memposisikan diri sebagai orang awam, kecuali obrolan kita ini disiarin di TV, radio atau koran..”.
“Kalo internet?”, potong Makaia.
“Menurut gua internet bukan media massa ah..”.
“Ay pikir dia bisa jadi massa, bisa jadi nggak, yah.. jangan aja sampe kayak Prita gitu!”. Makaia bangkit dari duduknya. “Akh, sudahlah, jadi contoh perumpamaannya apa aja Dan?”.
Belum sempat Danjuga menjawab, Makaia sudah bertanya lagi.
“Apa semua nabi di Quran itu sama kayak Adam-Hawa?”.
“Maksud lu?”, Danjuga balik bertanya.
“Kan kata you mereka mungkin bukan individu-individu..”.
“Hmm.. menurut gua, semua yang digambarkan Quran sebelum Ibrahim bukan individu, tapi sejak Ibrahim, semua adalah tokoh nyata yang memang ada dalam sejarah.”.
Makaia mengangguk-angguk. “Karena mereka nggak disebut ya dalam sejarah?”.
“Maksud gua, dari Ibrahim, bukti keberadaan nabi-nabi itu pun bisa diambil juga dari sumber tertulis lain Mak, tapi bukan berarti tokoh-tokoh individu yang dianggap nyata ini bebas dari perumpaan..”.
“Maksudnya?”, tanya Makaia.
“Jangan bilang gua skeptis ya Mak, tapi gua pikir banyak penggambaran-penggambara mukjizat nabi-nabi Quran itu hanyalah analogi, misalnya Musa ‘membelah laut’, artinya ya ‘nyebrang’, bukan berarti lautnya bener-bener dibelah..”.
“Tapi Dan, mukjizat kan dibuat biar umat bisa liat kekuasaan Allah!”, Makaia protes.
“Dan nggak perlu seheboh itu juga kan? Dulu gua pernah bilang kalau mukjizat adalah keajaiban yang..”.
“Make sense!”, sambar Makaia.
“Gua liat di Youtube..", lanjut Danjuga. "Banyak video-video miracle kayak singa ngaum “Allah” lah, awan bentuk tulisan ‘Allah’, sampe noda saos tomat ngebentuk tulisan ‘Allah’, bayangin Mak, saos tomat! Lucu amat orang-orang itu.. Terus liat aja commentnya, perang man! Kata-kataan agama, antar Islam-Yahudi-Kristen, dan pembelaan dari orang Islamnya menurut gua malu-maluin, cuma menunjukkan kalo kita itu bodoh dan klenik.. akhirnya, gua juga ikutan nulis komen, bunyinya: ‘For me, a true God’s miracle is when all Moslems, Christians & Jews can live peacefully side by side!’”.
“Woo-hoow! Itu kayaknya lebih susah dari bikin laut kebelah tuh!”, komentar Makaia.
“Kan lu bilang Mak, kun fayakun! Kalo Allah mau semua bisa jadi dalam sekejap! Mukjizat Yesus bisa ngidupin orang mati, Dia bisa menciptakan jagat raya, bikin kita damai kayaknya nggak sesusah itu lah..”.
“Mungkin.. Allah belum pengen kita berdamai dengan Yahudi?”, ujar Makaia dengan wajah bodoh.
“Terus Dia pengen kita perang satu-sama-lain, bahwa Yahudi itu adalah ‘the ultimate nemesis of all Moslems?’, ckckck.. balik aja lu ke jaman batu! Terus kalo semua Yahudi sudah musnah, apalagi? Yang Kristen? Setelah itu? Kalo semua agama lain habis kita bantai, terus siapa lagi? Mau perang terus sampai mampus? Udah sifat jeleknya manusia, harus menciptakan ‘suatu musuh’ entah apa pun itu!”.
Danjuga tiba-tiba jadi emosi, sebelum dia nyerocos lebih kasar lagi, Makaia buru-buru membekap mulut Danjuga, tapi karena dia melakukannya saat Danjuga masih bicara, maka basahlah tangan Makaia.
“Ay ngerti Dan..”, ujar Makaia. “Dulu SD ay kan di sekolah Islam, terus suatu siang abis sholat Zuhur berjamaah, dipasanglah layar putih di arah kiblat, terus guru-guru ay muter video penembakan orang Palestina oleh tentara Israel, nah, orang sipil Israel nya pada ketawa-tawa ngeliatnya.. Serem banget nonton film itu. Dulu ay takut banget sama orang Israel yang di film, sekarang, ay justru ngeri ngebayangin.. ‘kok bisa-bisanya guru-guru itu masang video propaganda ke bocah SD, di dalam Mushola pula! Maksud ay, itu bukannya sama aja ya dengan; sekumpulan boca Tionghoa disosdorin video kerusuhan 98, yang isinya pemerkosaan, penjarahan, pembunuhan..”.
Danjuga mengusap dahinya yang berkeringat. “Gila.. Kita didoktrin sejak dini untuk membeci orang-orang yang nggak kita kenal..”.
“Gua juga sering bertanya-tanya..”, timpal Makaia. “Apa iya semua Yahudi jahat? Apa iya semua Malaysia benci kita? Kalau suatu hari kita ketemu seorang Yahudi di jalan gimana?”.
Danjuga & Makaia lalu bengong berdua beberapa saat.
“Kopi nggak Mak?”, tawar Danjuga.
“Sebenernya mungkin kita perlu gaur, tapi kopi yahud juga.”.
“Yahudi juga? Apa musti diaduk dengan kasar dan diseruput penuh amarah?”.
Mereka berdua tertawa keras.
Danjuga menyeduh kopi dua cangkir, kopi hitam untuk dirinya sendiri, sementara dengan krim untuk Makaia.
“Tau nggak Mak, dulu Paus ke berapa gitu, pernah mengharamkan kopi lho.”.
“Ha? Kenapa begitu?”.
“Katanya minuman setan, padahal sih lebih karena maksud ekonomi-politik, karena bisnis kopi dulu dipegang sama Kesultanan Ottoman Turki. Tapi Paus beberapa generasi setelahnya menghalalkan lagi, katanya ‘Sayang dong, minuman seenak ini kok diharamin!”.
Makaia tertawa, saat kopi krimnya sampai di hadapannya, ia pun berkata, “Kopi.. apa jadinya dunia tanpa you?”.
Mereka belum meminum kopi yang yang baru jadi sebab masih terlalu panas, maka Danjuga menawari Makaia rokok.
“Eh, lanjut lagi lah ke pembahasan intelek kita! Hahay!”, serunya sambil menghisap rokok. “Jadi banyak mukjizat nabi-nabi kita yang kemungkinan nggak sefantasi itu ya?”.
“Ya, bagaimana kalau penggambaran yang ‘heboh’ itu agar menandakan bahwa momen-momen yang disebut mukjizat itu memang benar-benar momen yang penting, yang inspiratif, sebagai bahan teladan bagi umat. Pasukan Abrahah yang musnah oleh burung-burung Ababil ketika mereka hendak menyerang Mekkah, Ismail yang digantikan oleh kambing pas bakal disembeleh bapaknya, dan lain-lain..”, Danjuga lanjut, “Mungkin saja itu mirip kalau kita bilang; ‘Anjing! Tadi gua jalan kaki dari Lebak Bulus siang-siang ampir mati rasanya!’, apa rasanya bener-bener kayak mau mati? Nggak juga kan? Atau.. ‘Panas banget tadi siang! Kulit gua sampe gosong gini!’”.
“Bener juga..”, timpal Makaia. “Seperti.. ‘Malam ini, bintang-bintang tersenyum padaku..’, atau ‘Tuhan menyentuhku dengan tanganNya, meredakan amarahku..’. Gitu kan Dan?”.
“Kira-kira begitu lah..”, Danjuga tersenyum. “Jadi kalo lu bilang gua skeptis, itu salah besar, gua cuma mau melihat segala mukjizat & keajaiban Tuhan dengan cara yang beda..”.
“Hmm..”, Makaia mengusap-usap dagunya. “Jadi nasib nabi-nabi pra Ibrahim gimana tuh?”.
“Yang gua paling banyak tau itu kisah Nabi Nuh!”.
“Kenapa dia?”.
“Gua pernah baca, bahwa ras Homo Saphien itu pernah hampir musnah, hampir saja kita semua nggak sampe ke mari!”.
“Masa’?”, Makaia heboh.
“Homo Saphien itu muncul kira-kira sejak 200.000 tahun sebelum masehi di Afrika Timur, di sekitar wilayah itulah, pernah terjadi bencana yang hampir memusnahkan seluruh moyang kita!”.
“Air bah!”.
“Kalo di buku itu dan video Walking With Caveman sih kekeringan parah Mak, tapi penggambaran ‘malapetaka’ sebagai ‘air bah yang menenggelamkan seluruh dunia’ bisa dengan tepat menggambarkan ‘betapa mengerikannya keadaan waktu itu’.”.
Makaia menyalakan satu rokok lagi, jantungnya berdebar mendengar cerita Danjuga.
“Setelah itu, Nuh beranak pinak, ia pun banyak disebut sebagai ‘bapak segenap ras manusia’. Seperti yang kita tau, dari Afrika Timur Homo Saphien menyebar ke segala penjuru bumi.”.
“Kalo dari Afrika, berarti moyang kita item ya? Hehe..”, canda Makaia.
Danjuga menggeleng, lalu menunjuk kulit lengannya sendiri.
“Kalo Adam-Hawa dan Nuh itu adalah individu, dapat hampir dipastikan kalo warna kulit dan mata mereka cokelat, dan rambut mereka hitam.”.
“Gila! Sotoy gila!”, cibir Makaia.
“Hee! Coba lah kau cari tau!”, seru Danjuga. “Yang gua dapet itu, bahwa kulit sawo itu adalah warna yang paling luwes, kalo sehitam orang Afrika, susah untuk bisa terang, dan kulit seputih bule susah juga untuk jadi gelap, nah, kulit warna sawo itu gerbang ke arah mutasi pigmen/warna kulit yang lebih beragam!”.
Makaia memandang Danjuga dengan tatapan curiga, jangan-jangan yang dikatakannya cuma omong kosong.
“Owwkeeyy.. ay percaya you..”.
“Balik ke Nuh, jadi, menurut gua cerita ‘Air Bah’ dan hasil penyusuran sejarah Homo Saphien itu nyambung.”.
Mata Makaia menerawang.
“Terpecahkan sudah rahasia sejak Adam-Hawa sampai Nuh!”, serunya bersemangat.
“Jangan mengklaim diri segitu takaburnya ah!”, ujar Danjuga mengingatkan.
“Tapi.. bagian kisah Nuh soal dia mengikutsertakan hewan-hewan berpasang-pasangan itu apa?”, tanya Makaia, Danjuga jadi salah-tingkah mendengarnya. “Kalo nggak tau nggak usah maksa buat jawab!”.
Danjuga tersenyum. “Emang dari kemaren gua tau bener/salahnya?”. Ia mengambil nafas lalu melanjutkan. “Bagaimana kalau begini.. bagian tentang hewan-hewan itu menggambarkan struggle nenek-moyang kita dulu dalam menyelamatkan diri, dan itu pasti berhubungan dengan lingkungan/alam sekitar mereka, karena keberadaan hewan-hewan adalah ‘kehidupan’, apalagi di masa belum dikenalnya sistem pertanian. Bagaimana perjuangan nenek-moyang kita yang mesti berbagi ‘ruang hidup’ dengan hewan sekitar di masa kekeringan, bukankah ‘seperti berdesak-desakkan dengan mereka di sebuah bahtera kayu nan rapuh, yang mengapung di tengah air bah tanpa ujung’?”.
“Ah!”, Makaia menghentak. “Bagaimana kalau begini? Pembangunan bahtera di atas gunung adalah penggambaran ‘cara baru’, yang bagi pandangan konvensional menyimpang, bisa saja ‘migrasi’, atau ‘penerapan teknik beternak’, yang bagi masyarakat sebelumnya, masyarakat pemburu, adalah hal yang aneh!”.
“Justru, penjinakkan hewanlah yang menyelamatkan sebagian nenek moyang kita dari kelaparan ganas!”, sambung Danjuga. “Atau justru memulai migrasi keluar malah bikin mereka lolos dari maut!”.
“Itu dia!”, sambut Makaia.
Danjuga takjub terhadap kawannya. “Mantep lu Mak!”.
Makaia menggaruk-garuk hidungnya, itulah yang ia lakukan kalau sedang malu-malu justru karena merasa keren.
“Sekarang ay tambah yakin kalau Quran memang made in heaven!”, seru Makaia pasti.
Danjuga memalingkan wajah sambil tersenyum malu, ia menggaruk kecil pipinya, menggoda Makaia, membuatnya perlahan-lahan jadi curiga, Danjuga memperlihatkan jelas kalau dia ingin mematahkan pendapat Makaia barusan.
“Apa?”, tanya Makaia.
“Apanya yang apa?”.
“Muke you! Apa-apaan tuh?”, Makaia menunjuk-nunjuk wajah Danjuga.
Danjuga diam sebentar, menarik nafas sambil memejam mata, lalu tersenyum.
“Setelah ini, gua yakin bakal abis dikatain sama lu Mak.. skeptislah, apalah.. lucu.. padahal dulu lu gua kira pemadat Mak..”.
Wajah Makaia makin nampak sebal. “Ay kira you dulu atheis, tapi ternyata you takut setan!”.
Danjuga tertawa.
“Ya udah, ay nggak bakal ngatain you skeptis deh! Jadi?”. Makaia tak sabar. “Apa yang mau you timpalin dari komentar bahwa Quran was made in heaven?”.
“Gua nggak mau nyalahin lu karena bilang begitu, yang gua nggak setuju itu, adanya pembedaan sepihak soal ‘agama langit dan agama bumi’, menurut gua harusnya hanya ada agama langit, atau semua agama adalah agama bumi sekalian!”.
“Karena?”, kejar Makaia.
Danjuga memandang Makaia sejenak tanpa berkata, sebelum, “Dulu, kenyataan yang gua dapet ini hampir bikin iman gua goyah Mak. Nyatanya ada banyak kesamaan kisah ‘Air Bah Nuh’ dengan beberapa kisah dari agama/kebudayaan lain, dan saking samanya, lu bisa jadi bertanya-tanya; ‘Ini siapa yang jiplak siapa ya?’”.
Makaia mengerenyitkan dahi.
“Ada banyak mitos kuno yang mengisahkan tentang ‘banjir’ atau ‘bah’, tapi gua ambil dari sekitar timur tengah dan sekitarnya ya..”, Danjuga lanjut. “Kita tahu kisah Nuh itu berasal dari daerah Kanaan/Palestina/Israel, akar budaya Ibrani yang nenek moyangnya bernama Ibrahim. Ibrahim sendiri, kita tahu dia dulu migrasi dari satu tempat bersama keluarganya menuju ‘tanah yang dijanjikan’, nah Mak, tempat asal Ibrahim itu di mana?”.
“Arab?”, Makaia asal tebak.
“Ibrahim nemu Arab dan bangun Ka’bah kan belakang-belakangan, yang katanya Ismail akhirnya menetap di situ..”.
“Yaudah.. jadi dari mana asal Ibrahim?”, tanya Makaia.
“Kampung asal Ibrahim itu katanya dari Sumeria, lebih spesifik lagi disebut suatu kota bernama Ur, pada masa kerajaan Babilonia sekitar tahun 2000 sebelum masehi, yang pasti agak dekat dengan pemerintahan Raja Hammurabbi..”.
“Yang terkenal dengan tablet hukumnya itu?”, sambar Makaia. “Hammurabbi yang itu?”.
“Yes! Dan kalo kita pelajarin gaya hukum dan agama orang Sumeria, ternyata banyak ada kesamaan dengan akar Taurat atau Perjanjian Lama, yang di kemudian hari jadi akar Quran pula!”.
“Taurat nyontek agama orang Sumeria?”, tanya Makaia heboh.
“Lu tuh ya Mak.. kadang-kadang suka kasar banget ya? Lu yang bakal bikin kita dipenjara karena tuduhan penistaan agama kayaknya..”.
“Abis.. you ngarahin ay ke argumen kayak gitu sih..”, ujar Makaia pelan.
“Biar lebih damai..”, imbuh Danjuga. “Pertama-tama kita harus meyakinkan diri dulu, bahwa sumber wisdom dari akar Taurat memiliki asal yang sama, asal dari langit seperti yang tadi lu bilang Mak, bahwa moyang awal kita di Afrika dulu pun sudah dilimpahi wisdom yang di kemudian hari melahirkan Taurat. Dan kita juga tau bahwa peradaban Sumeria dianggap sebagai peradaban tertua di dunia, dari situ kita bisa percaya bahwa ‘akar’ itu memang berkah.”.
“Ay bener-bener bingung, you ngomong muter-muter Dan!”.
“Gua nggak bisa mengungkapkan dengan bahasa ilmiah Mak, gua juga bingung sendiri nih..”.
“You mau bilang, apa yang dilakukan Ibrahim, mungkin adalah suatu ‘penyempurnaan’ atau ‘pengembangan’ agama Sumeria yang punya akar langit?”.
Danjuga nyengir. “Kira-kira seperti itu! Kata-kata ‘yang punya akar langit’ barusan, kalo diilangin jadi agak mengganggu kan buat lu Mak?”.
“Sudah pasti..”, ujar Makaia dengan mata memicing. “Terus mana cerita Sumeria yang mirip Nuh?”.
Danjuga memulai cerita pertama..
“Sumeria.. Alkisah, Dewa Enki menyampaikan pada Ziusudra, bahwa ia akan mengirimkan air bah ke bumi. Dewa Enki lalu memerintahkan Ziusudra untuk membangun bahtera, agar ia lolos dari petaka dan menjadi moyang dari manusia berikutnya. Setelah air bah reda, Ziusudra mempersembahkan kurban pada An, dewa langit, dan kepada Enlil, pemimpin para dewa. Di akhir cerita, Ziusudra diberkati kehidupan kekal di Dilmun, sebuah tempat yang dianggap surga di Bumi...”.
Makaia tercengan mendengarnya. “Anjrot! Mirip bangad!”.
“Next story.. came from later Sumerian text, mitologi dari Babilonia… Alkisah, Gilgamesh tengah mencari keabadian, ia mengejar seseorang yang bernama Utnapishtim di Dilmun. Utnapishtim lalu memberitahu Gilgamesh tentang rencana para dewa untuk melenyapkan seluruh kehidupan, bahwa Utnapishtim diperintahkan untuk membangun semacam bahtera, agar ia beserta keluarga, harta dan segenap hewan ternaknya bisa terselamatkan. Setelah air bah terjadi, para Dewa memberkati Utnapishtim dengan keabadian.
“Ah, kan Sumeria sama Babilonia emang nggak terlalu beda Dan, itu mah jelas warisan!”.
“Kalo peradaban Dravida di Pakistan tau nggak lu?”, tanya Danjuga.
“Ciaellah!”, seloroh Makaia. “Peradaban Dravida adalah peradaban pra Arya di India kan? Emang napa?”.
“Jadi.. disebutkan pula bahwa peradaban Dravida itu punya hubungan erat dengan peradaban Sumeria..”.
“Terus?”, tanya Makaia.
“Lu tau legenda ‘Manu’ nggak?”.
Makaia menggelang. “Legenda Hindu ya?”.
Danjuga mengangguk. “Kita mulai ya... Alkisah..”.
“Tunggu!”, cegah Makaia, ia lalu beranjak ke kulkas, menuangkan air dingin ke gelas dan meminumnya begitu nikmat. “Achhhh!”. Begitu selesai, ia buru-buru kembali ke karpet. “Lanjut!”.
“Alkisah.. seorang lelaki bernama Manu, suatu hari mencuci tangannya di tepi sungai, saat seekor ikan datang ke telapak tangannya, ikan itu memohon agar Manu tidak memakannya, agar nyawanya diselamatkan. Ikan itu bernama Matsya, yang sebenarnya adalah avatar/penitisan Wisnu yang pertama ke bumi. Manu kemudian menaruh Matsya di sebuah kendi, namun ikan itu membesar dengan sangat cepat dan nggak lagi muat di kendi, Manu pindahin ke bak, eh.. beberapa saat kemudian membesar lagi, karena udah nggak muat di bak, Manu memindahkan lagi Matsya ke sungai, ia bahkan membesar terus sampai Manu akhirnya harus memindahkan Matsya ke laut. Karena kerja keras dan kebaikan hati Manu, maka Matsya memperingatkannya soal air bah yang akan segera tiba, dengan itu Manu membangun bahtera. Saat banjir datang, Manu lolos dari malapetaka, bahkan ia dipandu oleh Matsya menuju puncak Himalaya, satu-satunya daratan yang tidak tenggelam, di mana kemudian, Manu menambatkan bahteranya di sana, menunggu air bah mereda. Manu adalah moyang manusia dalam Hindu, sama seperti Nuh buat kita..”
Makaia bengong mendengar cerita Danjuga.
“Napa lu Mak?”, tanya Danjuga.
“Taik banget dah TV nih, terutama ya, TPI sama Indosiar! What the fuck man!”.
“Tapi tetep lu pantengin..”.
“Kadang-kadang asik juga sih, ngatain program-program sampah TV, sambil berasa pinteran dikit gitu man, tapi buseeeet! Nggak tau malu bener orang-orang ini! ‘Televisi Pendidikan Indonesia’, apa isinya orang dungu semua? Gantilah jadi ‘Televisi Pandir Indonesia’!”, cerocos Makaia.
“Lagi ada apa emang?”, tanya Danjuga ingin tahu.
“Ben 7! What the fuck! Ini lagi Indosiar, sejak Manohara, Titi kamal nggak lagi jadi TKW Arab, jadinya Malaysia! Ampun!”. Makaia mengecilkan volume TV lalu duduk bersila mengarah ke Danjuga, dengan wajah serius ia berkata, “Kalo suatu hari ay jadi tiran di republik ini, gua penggal-penggalin pala orang-orang ini! Nggak ketinggalan Aldi Taher sama Saipul Jamil! Pake piso mentega, rasain, 3 hari baru kelar eksekusinya!”.
“Kok dua-duanya suaminya Dewi Persik?”, tanya Danjuga geli.
“Kebetulan aja sih, tapi emang tuh cewek magnet laki-laki dari Saturnus mungkin!”. Makaia tersenyum sinis. “Apa coba bagusnya dua orang itu? Wah-wah.. oya, sama Eko Patrio juga sekalian!”.
“Ah udah ah!”, potong Danjuga. “Daripada ngomentarin orang nggak ada juntrungan, mending lu baca nih, Serial Detektif Partikelir Haryo di Facebook! Keren dah!”.
“Itu mah, ay udah baca Dan!”, ujar Makaia. “Kalo gua sukanya sama karakter asisten detektifnya..”.
“Kenapa dia?”, tanya Danjuga. “Nggak ngaruh gitu, tukang ngekor.”.
“Tapi dia bikin seger ceritanya man, hampir seluruh karakter di DPH itu gloomy semua!”.
Danjuga lalu mendendangkan potongan syair lagu ‘Gloomy Sunday’.
“Hiii! Stop you! Serem ah!”, seru Makaia. “Nggak tau you? Banyak orang bunuh diri abis dengerin lagu itu? Penyanyi aslinya aja konon, bunuh diri juga!”.
“Akh! Sotoy lu Mak!”, cibir Danjuga.
“Eh, ngomong-ngomong.. pacar you.. Yangpula, hari ini ke mari nggak Dan? Kok jadi jarang dah dia? Ada masalah you sama doi?”.
“Dia kan lagi skripsi Mak, sibuk.. emang kenapa lu nanya dia?”.
Makaia menyeringai.
“Dia kan jago buat skrip film Dan, ay punya ide nih! Idenya sci-fi gitu deh! Macam Indiana Jones, Tomb Rider, lalala!”.
Danjuga melirik. “Gimana ceritanya? Pasti aneh..”.
“Gua terinspirasi sama obrolan kita tempo hari, jadi ceritanya, dulu, pas Adam-Hawa diturunin ke bumi, ternyata Hawa masih nyimpen satu biji buah khuldi, yang terus dia tanem dan tumbuh di suatu tempat di bumi.. nah! Dari situ ceritanya di mulai, pencarian pohon buah terlarang yang menegangkan, penuh intrik dan tipu daya, juga action ala Michael Bay, orang-orang pada ngejar pohon itu karena dianggap bisa bikin dunia bertekuk lutut!”.
Danjuga cuma diam sebentar, lalu berujar pelan, “Mahal tuh kayaknya…”.
Makaia memble.
“Nggak seru you..”.
“Mending lu bikin novel aja dulu..”, imbuh danjuga. “Macam Da Vinci Code gitu, yah.. berdasar kisah-kisah Quran. Buku satu soal pencarian buah Khuldi, terus kisah Musa..”.
“Tunggu deh!”, potong Makaia. “Gua mendadak jadi kepikir, obrolan kita sebelumnya Dan, soal perumpaan dalam kitab suci..”.
“Yang ngelantur parah itu?”.
“Yoi! Ay belom tanya contoh bentuk perumpaannya apa aja!”, Makaia gemas. “Ada Quran nggak you?”.
Danjuga garuk-garuk kepala. “Di mana ya? Musti nyari dulu..”.
Makaia geleng-geleng. “Ngomongin isi Quran kayak ahli tafsir, tapi subjeknya aja musti nyari dulu entah di mana.. ckckck..”.
Danjuga tersipu. “Ya kita kan memposisikan diri sebagai orang awam, kecuali obrolan kita ini disiarin di TV, radio atau koran..”.
“Kalo internet?”, potong Makaia.
“Menurut gua internet bukan media massa ah..”.
“Ay pikir dia bisa jadi massa, bisa jadi nggak, yah.. jangan aja sampe kayak Prita gitu!”. Makaia bangkit dari duduknya. “Akh, sudahlah, jadi contoh perumpamaannya apa aja Dan?”.
Belum sempat Danjuga menjawab, Makaia sudah bertanya lagi.
“Apa semua nabi di Quran itu sama kayak Adam-Hawa?”.
“Maksud lu?”, Danjuga balik bertanya.
“Kan kata you mereka mungkin bukan individu-individu..”.
“Hmm.. menurut gua, semua yang digambarkan Quran sebelum Ibrahim bukan individu, tapi sejak Ibrahim, semua adalah tokoh nyata yang memang ada dalam sejarah.”.
Makaia mengangguk-angguk. “Karena mereka nggak disebut ya dalam sejarah?”.
“Maksud gua, dari Ibrahim, bukti keberadaan nabi-nabi itu pun bisa diambil juga dari sumber tertulis lain Mak, tapi bukan berarti tokoh-tokoh individu yang dianggap nyata ini bebas dari perumpaan..”.
“Maksudnya?”, tanya Makaia.
“Jangan bilang gua skeptis ya Mak, tapi gua pikir banyak penggambaran-penggambara mukjizat nabi-nabi Quran itu hanyalah analogi, misalnya Musa ‘membelah laut’, artinya ya ‘nyebrang’, bukan berarti lautnya bener-bener dibelah..”.
“Tapi Dan, mukjizat kan dibuat biar umat bisa liat kekuasaan Allah!”, Makaia protes.
“Dan nggak perlu seheboh itu juga kan? Dulu gua pernah bilang kalau mukjizat adalah keajaiban yang..”.
“Make sense!”, sambar Makaia.
“Gua liat di Youtube..", lanjut Danjuga. "Banyak video-video miracle kayak singa ngaum “Allah” lah, awan bentuk tulisan ‘Allah’, sampe noda saos tomat ngebentuk tulisan ‘Allah’, bayangin Mak, saos tomat! Lucu amat orang-orang itu.. Terus liat aja commentnya, perang man! Kata-kataan agama, antar Islam-Yahudi-Kristen, dan pembelaan dari orang Islamnya menurut gua malu-maluin, cuma menunjukkan kalo kita itu bodoh dan klenik.. akhirnya, gua juga ikutan nulis komen, bunyinya: ‘For me, a true God’s miracle is when all Moslems, Christians & Jews can live peacefully side by side!’”.
“Woo-hoow! Itu kayaknya lebih susah dari bikin laut kebelah tuh!”, komentar Makaia.
“Kan lu bilang Mak, kun fayakun! Kalo Allah mau semua bisa jadi dalam sekejap! Mukjizat Yesus bisa ngidupin orang mati, Dia bisa menciptakan jagat raya, bikin kita damai kayaknya nggak sesusah itu lah..”.
“Mungkin.. Allah belum pengen kita berdamai dengan Yahudi?”, ujar Makaia dengan wajah bodoh.
“Terus Dia pengen kita perang satu-sama-lain, bahwa Yahudi itu adalah ‘the ultimate nemesis of all Moslems?’, ckckck.. balik aja lu ke jaman batu! Terus kalo semua Yahudi sudah musnah, apalagi? Yang Kristen? Setelah itu? Kalo semua agama lain habis kita bantai, terus siapa lagi? Mau perang terus sampai mampus? Udah sifat jeleknya manusia, harus menciptakan ‘suatu musuh’ entah apa pun itu!”.
Danjuga tiba-tiba jadi emosi, sebelum dia nyerocos lebih kasar lagi, Makaia buru-buru membekap mulut Danjuga, tapi karena dia melakukannya saat Danjuga masih bicara, maka basahlah tangan Makaia.
“Ay ngerti Dan..”, ujar Makaia. “Dulu SD ay kan di sekolah Islam, terus suatu siang abis sholat Zuhur berjamaah, dipasanglah layar putih di arah kiblat, terus guru-guru ay muter video penembakan orang Palestina oleh tentara Israel, nah, orang sipil Israel nya pada ketawa-tawa ngeliatnya.. Serem banget nonton film itu. Dulu ay takut banget sama orang Israel yang di film, sekarang, ay justru ngeri ngebayangin.. ‘kok bisa-bisanya guru-guru itu masang video propaganda ke bocah SD, di dalam Mushola pula! Maksud ay, itu bukannya sama aja ya dengan; sekumpulan boca Tionghoa disosdorin video kerusuhan 98, yang isinya pemerkosaan, penjarahan, pembunuhan..”.
Danjuga mengusap dahinya yang berkeringat. “Gila.. Kita didoktrin sejak dini untuk membeci orang-orang yang nggak kita kenal..”.
“Gua juga sering bertanya-tanya..”, timpal Makaia. “Apa iya semua Yahudi jahat? Apa iya semua Malaysia benci kita? Kalau suatu hari kita ketemu seorang Yahudi di jalan gimana?”.
Danjuga & Makaia lalu bengong berdua beberapa saat.
“Kopi nggak Mak?”, tawar Danjuga.
“Sebenernya mungkin kita perlu gaur, tapi kopi yahud juga.”.
“Yahudi juga? Apa musti diaduk dengan kasar dan diseruput penuh amarah?”.
Mereka berdua tertawa keras.
Danjuga menyeduh kopi dua cangkir, kopi hitam untuk dirinya sendiri, sementara dengan krim untuk Makaia.
“Tau nggak Mak, dulu Paus ke berapa gitu, pernah mengharamkan kopi lho.”.
“Ha? Kenapa begitu?”.
“Katanya minuman setan, padahal sih lebih karena maksud ekonomi-politik, karena bisnis kopi dulu dipegang sama Kesultanan Ottoman Turki. Tapi Paus beberapa generasi setelahnya menghalalkan lagi, katanya ‘Sayang dong, minuman seenak ini kok diharamin!”.
Makaia tertawa, saat kopi krimnya sampai di hadapannya, ia pun berkata, “Kopi.. apa jadinya dunia tanpa you?”.
Mereka belum meminum kopi yang yang baru jadi sebab masih terlalu panas, maka Danjuga menawari Makaia rokok.
“Eh, lanjut lagi lah ke pembahasan intelek kita! Hahay!”, serunya sambil menghisap rokok. “Jadi banyak mukjizat nabi-nabi kita yang kemungkinan nggak sefantasi itu ya?”.
“Ya, bagaimana kalau penggambaran yang ‘heboh’ itu agar menandakan bahwa momen-momen yang disebut mukjizat itu memang benar-benar momen yang penting, yang inspiratif, sebagai bahan teladan bagi umat. Pasukan Abrahah yang musnah oleh burung-burung Ababil ketika mereka hendak menyerang Mekkah, Ismail yang digantikan oleh kambing pas bakal disembeleh bapaknya, dan lain-lain..”, Danjuga lanjut, “Mungkin saja itu mirip kalau kita bilang; ‘Anjing! Tadi gua jalan kaki dari Lebak Bulus siang-siang ampir mati rasanya!’, apa rasanya bener-bener kayak mau mati? Nggak juga kan? Atau.. ‘Panas banget tadi siang! Kulit gua sampe gosong gini!’”.
“Bener juga..”, timpal Makaia. “Seperti.. ‘Malam ini, bintang-bintang tersenyum padaku..’, atau ‘Tuhan menyentuhku dengan tanganNya, meredakan amarahku..’. Gitu kan Dan?”.
“Kira-kira begitu lah..”, Danjuga tersenyum. “Jadi kalo lu bilang gua skeptis, itu salah besar, gua cuma mau melihat segala mukjizat & keajaiban Tuhan dengan cara yang beda..”.
“Hmm..”, Makaia mengusap-usap dagunya. “Jadi nasib nabi-nabi pra Ibrahim gimana tuh?”.
“Yang gua paling banyak tau itu kisah Nabi Nuh!”.
“Kenapa dia?”.
“Gua pernah baca, bahwa ras Homo Saphien itu pernah hampir musnah, hampir saja kita semua nggak sampe ke mari!”.
“Masa’?”, Makaia heboh.
“Homo Saphien itu muncul kira-kira sejak 200.000 tahun sebelum masehi di Afrika Timur, di sekitar wilayah itulah, pernah terjadi bencana yang hampir memusnahkan seluruh moyang kita!”.
“Air bah!”.
“Kalo di buku itu dan video Walking With Caveman sih kekeringan parah Mak, tapi penggambaran ‘malapetaka’ sebagai ‘air bah yang menenggelamkan seluruh dunia’ bisa dengan tepat menggambarkan ‘betapa mengerikannya keadaan waktu itu’.”.
Makaia menyalakan satu rokok lagi, jantungnya berdebar mendengar cerita Danjuga.
“Setelah itu, Nuh beranak pinak, ia pun banyak disebut sebagai ‘bapak segenap ras manusia’. Seperti yang kita tau, dari Afrika Timur Homo Saphien menyebar ke segala penjuru bumi.”.
“Kalo dari Afrika, berarti moyang kita item ya? Hehe..”, canda Makaia.
Danjuga menggeleng, lalu menunjuk kulit lengannya sendiri.
“Kalo Adam-Hawa dan Nuh itu adalah individu, dapat hampir dipastikan kalo warna kulit dan mata mereka cokelat, dan rambut mereka hitam.”.
“Gila! Sotoy gila!”, cibir Makaia.
“Hee! Coba lah kau cari tau!”, seru Danjuga. “Yang gua dapet itu, bahwa kulit sawo itu adalah warna yang paling luwes, kalo sehitam orang Afrika, susah untuk bisa terang, dan kulit seputih bule susah juga untuk jadi gelap, nah, kulit warna sawo itu gerbang ke arah mutasi pigmen/warna kulit yang lebih beragam!”.
Makaia memandang Danjuga dengan tatapan curiga, jangan-jangan yang dikatakannya cuma omong kosong.
“Owwkeeyy.. ay percaya you..”.
“Balik ke Nuh, jadi, menurut gua cerita ‘Air Bah’ dan hasil penyusuran sejarah Homo Saphien itu nyambung.”.
Mata Makaia menerawang.
“Terpecahkan sudah rahasia sejak Adam-Hawa sampai Nuh!”, serunya bersemangat.
“Jangan mengklaim diri segitu takaburnya ah!”, ujar Danjuga mengingatkan.
“Tapi.. bagian kisah Nuh soal dia mengikutsertakan hewan-hewan berpasang-pasangan itu apa?”, tanya Makaia, Danjuga jadi salah-tingkah mendengarnya. “Kalo nggak tau nggak usah maksa buat jawab!”.
Danjuga tersenyum. “Emang dari kemaren gua tau bener/salahnya?”. Ia mengambil nafas lalu melanjutkan. “Bagaimana kalau begini.. bagian tentang hewan-hewan itu menggambarkan struggle nenek-moyang kita dulu dalam menyelamatkan diri, dan itu pasti berhubungan dengan lingkungan/alam sekitar mereka, karena keberadaan hewan-hewan adalah ‘kehidupan’, apalagi di masa belum dikenalnya sistem pertanian. Bagaimana perjuangan nenek-moyang kita yang mesti berbagi ‘ruang hidup’ dengan hewan sekitar di masa kekeringan, bukankah ‘seperti berdesak-desakkan dengan mereka di sebuah bahtera kayu nan rapuh, yang mengapung di tengah air bah tanpa ujung’?”.
“Ah!”, Makaia menghentak. “Bagaimana kalau begini? Pembangunan bahtera di atas gunung adalah penggambaran ‘cara baru’, yang bagi pandangan konvensional menyimpang, bisa saja ‘migrasi’, atau ‘penerapan teknik beternak’, yang bagi masyarakat sebelumnya, masyarakat pemburu, adalah hal yang aneh!”.
“Justru, penjinakkan hewanlah yang menyelamatkan sebagian nenek moyang kita dari kelaparan ganas!”, sambung Danjuga. “Atau justru memulai migrasi keluar malah bikin mereka lolos dari maut!”.
“Itu dia!”, sambut Makaia.
Danjuga takjub terhadap kawannya. “Mantep lu Mak!”.
Makaia menggaruk-garuk hidungnya, itulah yang ia lakukan kalau sedang malu-malu justru karena merasa keren.
“Sekarang ay tambah yakin kalau Quran memang made in heaven!”, seru Makaia pasti.
Danjuga memalingkan wajah sambil tersenyum malu, ia menggaruk kecil pipinya, menggoda Makaia, membuatnya perlahan-lahan jadi curiga, Danjuga memperlihatkan jelas kalau dia ingin mematahkan pendapat Makaia barusan.
“Apa?”, tanya Makaia.
“Apanya yang apa?”.
“Muke you! Apa-apaan tuh?”, Makaia menunjuk-nunjuk wajah Danjuga.
Danjuga diam sebentar, menarik nafas sambil memejam mata, lalu tersenyum.
“Setelah ini, gua yakin bakal abis dikatain sama lu Mak.. skeptislah, apalah.. lucu.. padahal dulu lu gua kira pemadat Mak..”.
Wajah Makaia makin nampak sebal. “Ay kira you dulu atheis, tapi ternyata you takut setan!”.
Danjuga tertawa.
“Ya udah, ay nggak bakal ngatain you skeptis deh! Jadi?”. Makaia tak sabar. “Apa yang mau you timpalin dari komentar bahwa Quran was made in heaven?”.
“Gua nggak mau nyalahin lu karena bilang begitu, yang gua nggak setuju itu, adanya pembedaan sepihak soal ‘agama langit dan agama bumi’, menurut gua harusnya hanya ada agama langit, atau semua agama adalah agama bumi sekalian!”.
“Karena?”, kejar Makaia.
Danjuga memandang Makaia sejenak tanpa berkata, sebelum, “Dulu, kenyataan yang gua dapet ini hampir bikin iman gua goyah Mak. Nyatanya ada banyak kesamaan kisah ‘Air Bah Nuh’ dengan beberapa kisah dari agama/kebudayaan lain, dan saking samanya, lu bisa jadi bertanya-tanya; ‘Ini siapa yang jiplak siapa ya?’”.
Makaia mengerenyitkan dahi.
“Ada banyak mitos kuno yang mengisahkan tentang ‘banjir’ atau ‘bah’, tapi gua ambil dari sekitar timur tengah dan sekitarnya ya..”, Danjuga lanjut. “Kita tahu kisah Nuh itu berasal dari daerah Kanaan/Palestina/Israel, akar budaya Ibrani yang nenek moyangnya bernama Ibrahim. Ibrahim sendiri, kita tahu dia dulu migrasi dari satu tempat bersama keluarganya menuju ‘tanah yang dijanjikan’, nah Mak, tempat asal Ibrahim itu di mana?”.
“Arab?”, Makaia asal tebak.
“Ibrahim nemu Arab dan bangun Ka’bah kan belakang-belakangan, yang katanya Ismail akhirnya menetap di situ..”.
“Yaudah.. jadi dari mana asal Ibrahim?”, tanya Makaia.
“Kampung asal Ibrahim itu katanya dari Sumeria, lebih spesifik lagi disebut suatu kota bernama Ur, pada masa kerajaan Babilonia sekitar tahun 2000 sebelum masehi, yang pasti agak dekat dengan pemerintahan Raja Hammurabbi..”.
“Yang terkenal dengan tablet hukumnya itu?”, sambar Makaia. “Hammurabbi yang itu?”.
“Yes! Dan kalo kita pelajarin gaya hukum dan agama orang Sumeria, ternyata banyak ada kesamaan dengan akar Taurat atau Perjanjian Lama, yang di kemudian hari jadi akar Quran pula!”.
“Taurat nyontek agama orang Sumeria?”, tanya Makaia heboh.
“Lu tuh ya Mak.. kadang-kadang suka kasar banget ya? Lu yang bakal bikin kita dipenjara karena tuduhan penistaan agama kayaknya..”.
“Abis.. you ngarahin ay ke argumen kayak gitu sih..”, ujar Makaia pelan.
“Biar lebih damai..”, imbuh Danjuga. “Pertama-tama kita harus meyakinkan diri dulu, bahwa sumber wisdom dari akar Taurat memiliki asal yang sama, asal dari langit seperti yang tadi lu bilang Mak, bahwa moyang awal kita di Afrika dulu pun sudah dilimpahi wisdom yang di kemudian hari melahirkan Taurat. Dan kita juga tau bahwa peradaban Sumeria dianggap sebagai peradaban tertua di dunia, dari situ kita bisa percaya bahwa ‘akar’ itu memang berkah.”.
“Ay bener-bener bingung, you ngomong muter-muter Dan!”.
“Gua nggak bisa mengungkapkan dengan bahasa ilmiah Mak, gua juga bingung sendiri nih..”.
“You mau bilang, apa yang dilakukan Ibrahim, mungkin adalah suatu ‘penyempurnaan’ atau ‘pengembangan’ agama Sumeria yang punya akar langit?”.
Danjuga nyengir. “Kira-kira seperti itu! Kata-kata ‘yang punya akar langit’ barusan, kalo diilangin jadi agak mengganggu kan buat lu Mak?”.
“Sudah pasti..”, ujar Makaia dengan mata memicing. “Terus mana cerita Sumeria yang mirip Nuh?”.
Danjuga memulai cerita pertama..
“Sumeria.. Alkisah, Dewa Enki menyampaikan pada Ziusudra, bahwa ia akan mengirimkan air bah ke bumi. Dewa Enki lalu memerintahkan Ziusudra untuk membangun bahtera, agar ia lolos dari petaka dan menjadi moyang dari manusia berikutnya. Setelah air bah reda, Ziusudra mempersembahkan kurban pada An, dewa langit, dan kepada Enlil, pemimpin para dewa. Di akhir cerita, Ziusudra diberkati kehidupan kekal di Dilmun, sebuah tempat yang dianggap surga di Bumi...”.
Makaia tercengan mendengarnya. “Anjrot! Mirip bangad!”.
“Next story.. came from later Sumerian text, mitologi dari Babilonia… Alkisah, Gilgamesh tengah mencari keabadian, ia mengejar seseorang yang bernama Utnapishtim di Dilmun. Utnapishtim lalu memberitahu Gilgamesh tentang rencana para dewa untuk melenyapkan seluruh kehidupan, bahwa Utnapishtim diperintahkan untuk membangun semacam bahtera, agar ia beserta keluarga, harta dan segenap hewan ternaknya bisa terselamatkan. Setelah air bah terjadi, para Dewa memberkati Utnapishtim dengan keabadian.
“Ah, kan Sumeria sama Babilonia emang nggak terlalu beda Dan, itu mah jelas warisan!”.
“Kalo peradaban Dravida di Pakistan tau nggak lu?”, tanya Danjuga.
“Ciaellah!”, seloroh Makaia. “Peradaban Dravida adalah peradaban pra Arya di India kan? Emang napa?”.
“Jadi.. disebutkan pula bahwa peradaban Dravida itu punya hubungan erat dengan peradaban Sumeria..”.
“Terus?”, tanya Makaia.
“Lu tau legenda ‘Manu’ nggak?”.
Makaia menggelang. “Legenda Hindu ya?”.
Danjuga mengangguk. “Kita mulai ya... Alkisah..”.
“Tunggu!”, cegah Makaia, ia lalu beranjak ke kulkas, menuangkan air dingin ke gelas dan meminumnya begitu nikmat. “Achhhh!”. Begitu selesai, ia buru-buru kembali ke karpet. “Lanjut!”.
“Alkisah.. seorang lelaki bernama Manu, suatu hari mencuci tangannya di tepi sungai, saat seekor ikan datang ke telapak tangannya, ikan itu memohon agar Manu tidak memakannya, agar nyawanya diselamatkan. Ikan itu bernama Matsya, yang sebenarnya adalah avatar/penitisan Wisnu yang pertama ke bumi. Manu kemudian menaruh Matsya di sebuah kendi, namun ikan itu membesar dengan sangat cepat dan nggak lagi muat di kendi, Manu pindahin ke bak, eh.. beberapa saat kemudian membesar lagi, karena udah nggak muat di bak, Manu memindahkan lagi Matsya ke sungai, ia bahkan membesar terus sampai Manu akhirnya harus memindahkan Matsya ke laut. Karena kerja keras dan kebaikan hati Manu, maka Matsya memperingatkannya soal air bah yang akan segera tiba, dengan itu Manu membangun bahtera. Saat banjir datang, Manu lolos dari malapetaka, bahkan ia dipandu oleh Matsya menuju puncak Himalaya, satu-satunya daratan yang tidak tenggelam, di mana kemudian, Manu menambatkan bahteranya di sana, menunggu air bah mereda. Manu adalah moyang manusia dalam Hindu, sama seperti Nuh buat kita..”
Makaia bengong mendengar cerita Danjuga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar